Jumat, 12 Juni 2026

Berita Banyumas

Filosofi Jenang Khas Banyumas, Dimasak Bersama Rekatkan Saudara

Di balik proses memasaknya yang panjang, tersimpan nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun

Tayang:
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
TRADISI NJENANG - Suasana warga saat mengaduk dalam proses pembuatan jenang jelang hajatan, Rabu (10/6/2026). 


Anak-anak muda yang pulang sekolah pun kerap ikut bergabung meramaikan suasana.


Kasdi mengatakan dirinya sengaja memilih membuat jenang sendiri karena lebih hemat sekaligus sebagai upaya mempertahankan tradisi masyarakat Banyumas.


"Kalau beli satu kuintal bisa Rp3,5 juta. 


Kalau bikin sendiri sekitar Rp3 juta bisa dapat dua kuintal, bahkan lebih. 


Soalnya kelapa tidak beli, gula merah bikin sendiri karena saya penderes, beras juga ada sumbangan dari saudara," imbuhnya. 


Untuk memasak jenang, Kasdi menyewa dua buah Jadi milik tetangganya.


Satu Jadi berdiameter sekitar 1,5 meter mampu menampung hingga 60 kilogram adonan. 


Sementara ukuran yang lebih kecil dapat menampung sekitar 35 kilogram.


"Jadi yang besar itu muat sampai 60 kilo. 


Yang kecil sekitar 35 kilo. Untuk sewa Jadi seratus ribu per buah, saya sewa dua," ujarnya.


Kasdi menjelaskan, satu kali produksi menggunakan Jadi besar membutuhkan sekitar 250 butir kelapa untuk santan, 55 kilogram gula merah, dan 15 kilogram beras ketan.


Sementara untuk Jadi berukuran lebih kecil dibutuhkan sekitar 200 butir kelapa dan 28 kilogram gula merah.


Menurutnya, tradisi njenang masih dapat ditemukan di Desa Dawuhan, terutama saat hajatan pernikahan dan khitanan. 


Namun jumlahnya terus berkurang dibandingkan beberapa dekade lalu.


"Di Dawuhan khususnya, atau Kecamatan Banyumas, dulu masih banyak yang njenang kalau ada hajatan nikahan atau sunatan. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved