Kamis, 11 Juni 2026

Berita Banyumas

Filosofi Jenang Khas Banyumas, Dimasak Bersama Rekatkan Saudara

Di balik proses memasaknya yang panjang, tersimpan nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun

Tayang:
Tribun Banyumas/Permata Putra Sejati
TRADISI NJENANG - Suasana warga saat mengaduk dalam proses pembuatan jenang jelang hajatan, Rabu (10/6/2026). 


Setelah doa selesai, rangkaian pekerjaan panjang pun dimulai.


Bumbu berupa bawang merah, bawang putih, terasi, garam, jahe, dan asam jawa lebih dahulu ditumis dalam Jadi. 


Setelah itu santan kelapa dimasukkan dan terus diaduk hingga mengeluarkan minyak.


Tahap berikutnya adalah memasukkan gula merah hingga larut sempurna. 


Setelah itu adonan dicampur tepung beras yang telah dilarutkan, lalu ditambahkan beras ketan sebagai bahan utama pembentuk tekstur jenang.


Proses memasak memakan waktu sangat lama, antara delapan hingga sepuluh jam. 


Biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan baru selesai menjelang magrib bahkan hingga malam hari. 


Ada pula yang memulai proses memasak sejak malam atau dini hari.


Bagi warga, lamanya waktu memasak menentukan kualitas jenang yang dihasilkan.


Jenang yang dimasak terlalu cepat dipercaya lebih mudah berjamur. 


Sebaliknya, jenang yang dimasak hingga benar-benar tanek atau matang sempurna dapat bertahan hingga dua pekan.


Meski perkembangan teknologi telah membantu beberapa tahapan produksi, seperti penggunaan mesin penggiling kelapa dan pembuat tepung, proses memasak tetap mengandalkan tenaga manusia.


Sekitar 10 hingga 15 orang harus bergantian mengaduk adonan yang semakin berat seiring mengentalnya jenang.


Kaum bapak biasanya bertugas mengaduk adonan dan menjaga api tungku. 


Sementara para ibu menyiapkan bahan serta memasak konsumsi bagi warga yang membantu. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved