Minggu, 3 Mei 2026

Berita Banyumas

Guru Besar Fisika Unsoed : Hilal Awal Ramadan 2026 Terlihat pada 18 Februari

Berdasarkan analisis perhitungan astronomi, dia memperkirakan hilal awal Ramadan akan terlihat, pada Rabu malam 18 Februari 2026

Tayang:
Tribun Banyumas
VISUALISASI- Visualisasi hasil analisis perkiraan penampakan hilal awal Ramadan 2026. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Guru Besar Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Jamrud Aminuddin, telah melakukan perhitungan awal Ramadan 2026.


Berdasarkan analisis perhitungan astronomi, dia memperkirakan hilal awal Ramadan akan terlihat, pada Rabu malam 18 Februari 2026.


Dosen Ahli Penginderaan Jauh, Prof Jamrud Aminuddin mengatakan, perhitungan dilakukan menggunakan perangkat lunak pengolah data astronomi yang dikembangkan oleh Islamic Astronomical Center (IAC). 


Titik pengamatan yang digunakan berada di Gedung C FMIPA Unsoed dengan koordinat astronomis bujur 109°15’15,0” BT dan lintang 7°24’37,0” LS, serta zona waktu WIB (UTC +7).


Berdasarkan hasil perhitungan, pada Selasa 17 Februari 2026, akan terjadi konjungsi atau ijtimak pada pukul 19.01 WIB. 


Konjungsi merupakan peristiwa saat matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus.


Pada hari tersebut, matahari terbenam lebih dahulu, yakni pada pukul 18.16 WIB. 


"Karena konjungsi terjadi setelah matahari terbenam, para ahli falak sepakat bahwa malam tersebut belum dapat dinyatakan sebagai awal bulan baru," jelas Prof Jamrud, alumni S3 Remote Sensing dari Chiba University, Jepang.


Prof Jamrud mengatakan, pada Rabu 18 Februari 2026, matahari diperkirakan terbenam pukul 18.15 WIB. 


Pada saat itu, posisi hilal atau bulan sabit muda sudah berada pada ketinggian sekitar 9 derajat 31 menit di atas ufuk dengan sudut elongasi sekitar 11 derajat 54 menit. 

Baca juga: Wacana Gunung Slamet Jadi Taman Nasional, Warga Mulai Ketar-ketir


Nilai tersebut telah melampaui kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi lebih dari 6,4 derajat.


"Dengan kondisi tersebut, awal Ramadan 1447 Hijriyah sangat memungkinkan untuk disepakati jatuh pada Rabu malam, 18 Februari 2026. 


Berdasarkan perhitungan ini pula, hilal diprediksi dapat terlihat dengan mudah, bahkan tanpa bantuan alat optik seperti teleskop," jelasnya. 


Jurusan Fisika FMIPA Unsoed juga akan ikut serta dalam pemantauan hilal dari area rooftop kampus, pada 18 Februari 2026.


Kegiatan akan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 dengan ketua tim Prof Jamrud Aminuddin beserta anggota timnya Prof Budi Pratikno dan Dr Mirda Prisma Wijayanto. (fba)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved