Kamis, 23 April 2026

Kebumen

Tanpa Tengkulak, Petani Kebumen Pasok Langsung Bahan MBG

Program MBG Nglarisi Pasar memotong peran tengkulak. Petani Kebumen kini pasok langsung sayuran ke dapur umum dengan harga lebih tinggi.

Penulis: Agus Iswadi | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Banyumas/Agus Iswadi
Tanpa Perantara - Perwakilan kelompok tani menandatangani perjanjian kerja sama penyediaan komoditas untuk program MBG di halaman Pasar Tumenggungan, Kebumen, Senin (12/1/2026). Kerja sama ini memotong jalur tengkulak sehingga harga di tingkat petani lebih tinggi. 

Ringkasan Berita:
  • Pemkab Kebumen meluncurkan program "MBG Nglarisi Pasar dan Petani" yang menghubungkan langsung kelompok tani dengan yayasan penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Dengan memotong rantai distribusi (tanpa tengkulak/pengepul), petani menikmati kenaikan harga jual, contohnya timun yang naik dari Rp2.000 menjadi Rp3.000 per kilogram.
  • Kerjasama ini melibatkan 6 kelompok tani dengan kontrak satu tahun, menyuplai berbagai komoditas segar seperti cabai, tomat, dan kacang panjang langsung ke dapur.

TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Kabar gembira menyapa para petani di Kabupaten Kebumen. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah kini membawa dampak ekonomi nyata bagi sektor pertanian lokal melalui program inovatif bertajuk "MBG Nglarisi Pasar dan Petani".

Program ini resmi diluncurkan ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara kelompok tani dengan yayasan/koperasi Satuan Pelayanan Pemberian Gizi (SPPG) di halaman Pasar Tumenggungan, Senin (12/1/2026).

Momen ini disaksikan langsung oleh Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, serta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hidayana.

Baca juga: Pekerja Dapur MBG di Kebumen Berhak Dapat Gaji UMK Rp 2,4 Juta

Potong Jalur Tengkulak

Dampak positif langsung dirasakan oleh Imam Mursyid (32), anggota kelompok tani asal Buluspesantren.

Ia menyambut antusias kerja sama ini karena mampu memangkas rantai distribusi yang selama ini panjang.

Biasanya, yayasan penyedia makanan mengambil bahan baku dari pengepul atau tengkulak.

Kini, mereka mengambil langsung dari petani.

"Petani itu langsung merasakan harga yang lumayan tinggi. Yang semula yayasan ke pengepul, ini langsung ke kelompok tani. Harganya jadi lumayan bagus," ungkap Imam kepada Tribunbanyumas.com, Senin.

Harga Jual Naik

Imam mencontohkan komoditas timun. Jika dijual ke pengepul biasanya hanya dihargai Rp2.000 per kilogram, lewat program ini harganya bisa mencapai Rp3.000 per kilogram.

Selisih harga ini sangat berarti bagi kesejahteraan petani.

Saat ini, kelompok tani menyuplai sekitar 5 kuintal sayuran setiap bulannya ke yayasan mitra BGN.

Jenis sayuran yang dipasok pun beragam, mulai dari timun, kacang panjang, tomat, jagung muda, cabai keriting, hingga cabai rawit.

Imam berharap, ke depan frekuensi suplai bisa ditingkatkan.

"Harapannya bisa suplai setiap hari, bukan cuma sebulan sekali. Kami siap memenuhi kebutuhan bahan baku lokal," tuturnya penuh harap.

Barang Lebih Segar

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distapang) Kebumen, Teguh Yuliono, menjelaskan bahwa pada tahap awal ini terdapat enam kelompok tani dan enam yayasan/koperasi yang menandatangani kontrak kerja sama selama satu tahun.

Tujuan utamanya adalah efisiensi rantai pasok.

"Harapannya barang petani bisa langsung masuk ke dapur, bisa memperpendek rantai distribusi. Petani dapat harga bagus dan dapur dapat barang yang fresh (segar) dari petani," jelas Teguh. (Ais)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved