Berita Cilacap
Awas Potensi Bibit Siklon di Selatan Cilacap, Bisa Picu Ombak Tinggi
masyarakat, khususnya nelayan untuk lebih waspada terhadap kemungkinan munculnya bibit siklon tropis
Penulis: Rayka Diah Setianingrum | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Memasuki awal tahun 2026, cuaca di wilayah Cilacap dan perairan selatan Jawa kembali menjadi perhatian, menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi dinamika atmosfer yang meningkat.
BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Cilacap, mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku aktivitas laut, untuk lebih waspada terhadap kemungkinan munculnya bibit siklon tropis.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyebutkan bahwa periode Januari hingga Maret secara klimatologis merupakan fase yang rawan terbentuknya gangguan cuaca di perairan selatan Jawa.
“Biasanya pada bulan Januari, Februari, hingga Maret, di wilayah perairan selatan Cilacap atau selatan Jawa muncul bibit-bibit siklon,” ujar Teguh, Kamis (1/1/2026).
Kemunculan bibit siklon tersebut berpotensi memicu perubahan cuaca yang cukup signifikan, termasuk peningkatan tinggi gelombang laut yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan.
Selain gelombang tinggi, BMKG juga mengingatkan adanya potensi fenomena cuaca lokal seperti waterspout atau puting beliung di laut yang kerap muncul secara tiba-tiba.
Teguh menjelaskan, fenomena tersebut umumnya terjadi saat musim penghujan diselingi cuaca panas atau terik selama beberapa hari berturut-turut.
“Jika di musim penghujan terjadi cuaca panas atau terik selama beberapa hari, kemudian saat awal turun hujan, biasanya terdapat potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang maupun puting beliung,” jelasnya.
Untuk meminimalkan risiko kecelakaan laut akibat cuaca ekstrem, BMKG secara berkelanjutan memberikan edukasi kepada nelayan melalui program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN).
Baca juga: Tiga Buruh Ditahan,Kuasa Hukum Ajukan Abolisi Kasus Tambang Emas Banyumas ke Presiden RI
Melalui program tersebut, nelayan diperkenalkan pemanfaatan teknologi informasi cuaca, salah satunya aplikasi INAWIS (Indonesian Weather Information for Shipping).
Menurut Teguh, penggunaan teknologi cuaca ini telah mengubah pola melaut nelayan menjadi lebih terencana, efektif, dan aman.
Nelayan kini tidak hanya mengandalkan insting, tetapi juga data cuaca dan informasi daerah penangkapan ikan sebelum memutuskan untuk berlayar.
“Nelayan sekarang menangkap ikan karena sudah mengetahui posisinya, sekaligus bisa menghindari melaut saat kondisi cuaca tidak kondusif,” pungkas Teguh. (ray)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Perahu-nelayan-cilacap-p.jpg)