Minggu, 26 April 2026

Berita Purbalingga

Mulai 2026, Pembayaran Retribusi 3 Pasar di Purbalingga Tak Lagi Tunai. Petugas Cukup Scan Barcode

Dinperindag Purbalingga berencana menarik retribusi secara digital di tiga pasar tradisional di Purbalingga.

Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: rika irawati
Tribun Banyumas/Farah Anis Rahmawati
RETRIBUSI DIGITAL - Kepala Dinperindag Purbalingga Agung Widiarto saat dijumpai di kantornya, Rabu (10/12/2025). Agung menyatakan, retribusi di tiga pasar di Purbalingga akan ditarik secara digital setelah sistem ini sukses diterapkan di Pasar Bukateja. 

Ringkasan Berita:
  • Dinperindag Purbalingga berencana menarik retribusi di tiga pasar di Purbalingga secara digital.
  • Sistem ini sebelumnya telah diterapkan di Pasar Bukateja dan dinilai sukses.
  • Nantinya, baik pedagang maupun pembeli didorong untuk melakukan transaksi secara nontunai, terutama menggunakan QRIS.

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) PUrbalingga, Jawa Tengah, berencana menerapkan retribusi digital di tiga pasar tradisional pada 2026.

Sistem ini diterapkan setelah digitalisasi retribusi di Pasar Bukateja dinilai sukses.

Ketiga pasar yang akan menerapkan retribusi digital mulai 2026 adalah Pasar Hartono, Pasar Mandiri, dan Pasar Panican. 

Kepala Dinperindag Purbalingga Agung Widiarto mengatakan, proses digitalisasi dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan meminimalkan kebocoran dalam pemungutan retribusi

"Ke depan, petugas tidak lagi menerima uang tunai."

"Begitu barcode dipindai, pembayaran langsung masuk ke kas daerah," kata Agung saat ditemui Tribunbanyumas.com di kantornya, Rabu (10/12/2025). 

Baca juga: Kecamatan Karangmoncol Purbalingga Siap Terapkan Digitalisasi Pelayanan Publik

Agung mengatakan, pelaksanaan digitalisasi retribusi tersebut nantinya akan menggandeng Bank Jateng. 

"Sehingga, pedagang diharuskan memiliki rekening Bank Jateng," katanya. 

Sosialisasi Bertahap 

Meskipun penggunaan digitalisasi retribusi dinilai menjadi solusi yang praktis, Agung mengakui, penerapannya membutuhkan proses lama. 

Terutama, kepada pedagang yang sudah lanjut usia. 

"Pendekatannya memang harus panjang dan berulang."

"Kami juga masih terus melakukan sosialisasi agar semua pedagang, termasuk yang sudah sepuh (lansia), bisa memahami bagaimana cara memakai QRIS," katanya. 

Waspada Qris Palsu 

Setelah digunakan pembayaran nontunai, Agung berharap, baik pedagang ataupun pembeli di pasar, dapat lebih waspada terkait adanya QRIS palsu. 

Baca juga: Punya Gedung Megah, Kemenhaj Resmi Berdiri di Purbalingga

Agung mengingatkan, baik pedagang ataupun pembeli, harus memastikan dan tidak terburu-buru ketika akan melakukan pembayaran melalui QRIS. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved