Berita Purbalingga
Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Meningkat, Purbalingga Usulkan Tambahan 2.000 Ton
Untuk penyerapan pupuk urea hingga akhir November ini tercatat telah diserap hingga 79 persen, dengan alokasi 11.780 ton dan realisasi 9.357 ton.
Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: Rustam Aji
Ringkasan Berita:
- Kebutuhan pupuk bersubsidi di Purbalingga meningkat seiring masuknya musim tanam pertama pada bulan Desember.
- Adapun untuk penyerapan pupuk urea hingga akhir November ini tercatat telah diserap hingga 79 persen, dengan alokasi 11.780 ton dan realisasi 9.357 ton.
- Dengan penyerapan sebanyak 79 persen tersebut, terjadi tren kenaikan penggunaan pupuk urea dalam delapan tahun terakhir.
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Menjelang akhir tahun, kebutuhan pupuk bersubsidi di Purbalingga meningkat seiring masuknya musim tanam pertama pada bulan Desember.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Hafidhah Khusniyati memastikan kondisi penyerapan pupuk hingga akhir November masih aman, terutama untuk jenis urea.
Adapun untuk penyerapan pupuk urea hingga akhir November ini tercatat telah diserap hingga 79 persen, dengan alokasi 11.780 ton dan realisasi 9.357 ton.
"Sisa alokasi saat ini 2.422 ton, jadi masih aman, karena tinggal satu bulan. Biasanya petani menghabiskan kuota di bulan Desember. Nanti, per 31 Desember kuota sudah hangus dan di bulan Januari kuota dimulai dari nol lagi," katanya, Jumat (5/12/2025).
Dengan penyerapan sebanyak 79 persen tersebut, menurutnya terjadi tren kenaikan penggunaan pupuk urea dalam delapan tahun terakhir.
"Sekarang penyerapan pupuk urea dan NPK juga sudah seimbang. Dulu penyerapan NPK hanya 5.000 ton, sekarang sudah 8.000 an ton. Ini tentu menunjukkan tren yang positif, karena petani mulai menerapkan pemupukan yang berimbang," ujarnya.
NPK Mulai Menipis
Berbeda dengan urea, kondisi pupuk NPK atau Phonska justru menipis. Dengan penyerapan sekitar 90 persen atau 8.689 ton dari alokasi 9.500 ton, alokasi pupuk NPK saat ini tersisa 930 ton.
"Ini sudah sangat menipis, padahal Desember adalah puncaknya kebutuhan pupuk. Memang ada perubahan perilaku petani, sehingga pemakaian NPK meningkat," jelasnya.
Baca juga: Kecamatan Watumalang Wonosobo Dilanda Longsor akibat Hujan Lebat
Usulan Tambahan 500-1.500 ton
Hafidhah mengatakan, pupuk merupakan salah satu isu yang cukup sensitif. Sehingga, pihaknya pun mengantisipasinya dengan mengajukan tambahan sedari awal.
"Pupuk itu cukup sensitif, kurang sedikit bisa jadi gejolak. Jadi kami sudah antisipasi lebih awal sebelum muncul keluhan dari petani," ucapnya.
Adapun untuk usulan penambahan pupuk dilakukan hingga sebanyak 2.000 ton untuk jenis pupuk NPK.
"Usulan penambahan pupuk, semuanya pupuk NPK. Pertama sudah kami ajukan usulan tambahan 1.500 ton, kemudian di bulan Desember ini kita usulkan lagi 500 ton," katanya.
Lebih lanjut, menanggapi informasi menipisnya stok pupuk NPK di gudang pupuk Bojong, yang sempat dilaporkan warga melalaui kanal aduan Lapor Mas Bup pada (26/11/2025) lalu, pihaknya memastikan pasokan tetap berjalan.
"Di hari itu juga, langsung masuk empat truk. Memang kadang itu ada hambatan distribusi, misalnya hujan deras atau antrean panjang di gudang Gresik. Tapi sampai hari ini alhamdulilah, belum ada keluhan dari petani," pungkasnya. (anr)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/butuh-pupuk-purbalingga.jpg)