Berita Banyumas
Ketika Pemkab Banyumas Klaim UMR Naik Terus, Tapi Warganya Selalu Mengeluh
Namun di balik tren positif tersebut, para buruh di Purwokerto menilai peningkatan itu belum sejalan dengan kebutuhan hidup dan realitas
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) di Banyumas terjadi konsisten selama tiga tahun terakhir.
Namun di balik tren positif tersebut, para buruh di Purwokerto menilai peningkatan itu belum sejalan dengan kebutuhan hidup dan realitas di lapangan.
Seperti diungkapkan seorang buruh di salah satu perusahaan di Purwokerto, Xian Leo (28), mengungkapkan ia baru merasakan upah yang dianggap "layak" setelah empat tahun bekerja, yakni sejak setahun terakhir.
"Saya bekerja sudah sekitar 4 tahun, upah layak baru dapat Rp2,3 juta itupun setahun yang lalu," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (29/11/2025).
Xian bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar di Purwokerto.
Namun, menurutnya seharusnya sudah berbadan hukum PT karena memiliki banyak cabang dan karyawan.
Hingga kini perusahaan tersebut masih berstatus CV.
"Banyak karyawan yang honornya di bawah UMR.
Contoh kaya pramuniaga, gudang, kasir, itu masih jauh dari UMR," ungkapnya.
Ia menyebut UMR di Purwokerto idealnya berada di angka minimal Rp3 juta, menyesuaikan kebutuhan hidup pekerja.
"Layak hidup UMR di Purwokerto paling minim Rp3 juta.
Itu standar banget sudah buat makan, nyicil motor, dan lain-lain.
Minimal Rp3 juta, teman-teman yang lain jelas kekurangan.
Banyak yang nyambi, ada yang jualan sembako biar nutup kebutuhan," katanya.
Selain persoalan upah, ia menyoroti sulitnya akses kerja bagi lulusan SMA dan SMP serta persyaratan fisik yang dinilai tidak masuk akal di sejumlah lowongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Job-fair-pekerja-di-purwokerto.jpg)