Kamis, 30 April 2026

Berita Purbalingga

Jarang yang Tahu, Usia Hampir Seabad Pabrik Permen Davos Masih Eksis di Purbalingga

Dalam paparannya Risda mengungkapkan jika permen Davos sudah ada sejak masa kolonial. 

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: khoirul muzaki
Istimewa FB
Pengunjung berpose di pabrik Davos 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA- Permen Davos mungkin tak lagi dikenal generasi Genzi. Namun, bagi generasi sebelumnya kembang gula ini menjadi primadona. Karena melegenda, bahkan permen ini potensial untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kebanggaan kota Perwira Purbalingga.


Hal itu terkuak dalam Webinar Estafet Sejarah Lokal Jawa Tengah yang digelar bulanan oleh AGSI dan MGMP Sejarah SMA Provinsi Jawa Tengah, Jumat (17/10/2025) lalu. 


Hadir sebagai narasumber kegiatan tersebut Risda Amanda guru sejarah MAN 1 Purbalingga.


Dalam paparannya Risda mengungkapkan jika permen Davos sudah ada sejak masa kolonial. 

Baca juga: Banyumas Hadapi Situasi Sulit Kehilangan Rp 319 M, Sadewo tak Akan Naikkan Tarif PBB


"Permen ini mulai ada sejak berdiri perusahaan Slamet Langgeng & Co di tahun 1931 tepatnya tanggal 28 Desember. Didirikan oleh peranakan Tionghoa Siem Kie Djan yang awalnya seorang pedagang gula. Ia kemudian membuat diversifikasi produk salah satunya permen Davos, dan ternyata masyarakat suka," jelas Risda.


Permen ini, tambah Risda, menjadi primadona masyarakat karena harganya yang terjangkau oleh masyarakat pribumi dan rasanya yang khas semriwing sehingga sering dijadikan sebagai teman perjalanan. 
"Permen ini sudah melewati 3 generasi. Sehingga sudah sangat melegenda," tandasnya.


Dr Tsabit Azinar Ahmad dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang sebagai pembicara kunci mengungkapkan, permen ini dapat menjadi warisan budaya tak benda (WBTB), dan juga memori kolektif bagi masyarakat Purbalingga dan sekitarnya. 


"Tokoh pendiriannya juga sangat berpengaruh tentunya bagi daerah, bisa menjadi kajian sejarah tokoh yang menarik untuk ditulis biografinya," ujar Tsabit.


Ketua AGSI Provinsi Jawa Tengah Heni Purwono mengungkapkan bahwa perjalanan permen Davos menjadi rekaman bagi Purbalingga sebagai kota di pedalaman yang dekat dengan diversifikasi industri.


"Ini menjadi menarik, karena Purbalingga selalu menjadi sasaran industri dari masa le masa. Dan menariknya, buruh atau pekerja sasarannya adalah wanita, seperti yang saat ini marak dengan industri rambut palsu. Ini juga memunculkan persoalan emansipasi dimana ada budaya Papa Momong Mama Kerja (Pamong Praja). Menarik untuk dikaji dalam perspektif sejarah dan budaya lokal," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved