Menurutnya, TPU tersebut dahulu seperti pemakaman pada umummya.
Luasannya sekira 200x10 meter diisi ratusan makam.
Makam tersebut diisi warga Tambarejo, Tambaklorok, dan Tambakmulyo.
Bedanya, di TPU Tambakrejo ditumbuhi pohon-pohon cemara laut.
Mulai masuk tahun 2000, air rob mulai menggerus area pesisir.
Memasuki tahun 2015, area permakaman mulai tenggelam akibat abrasi yang meluas di pesisir Semarang.
Sebelum kondisi itu semakin parah, ia sebenarnya punya keinginan memindahkan makan keluarga.
Namun, setelah berkonsultasi dengan seorang kiai yang menyatakan tak perlu memindah makam, niat itu urung diwujudkan.
"Kata kiai cukup didoakan, jangan dipaksakan makam dipindah, paling penting doanya," ungkap Dani.
Sebagai warga asli pesisir, Dani pernah pula mendapatkan pekerjaan memindahkan jenazah dari makam di area tersebut.
Ada belasan jenazah yang dia pindah.
"Kerjaan itu saya lakukan lima tahun lalu, pertama ada 11 jenazah, lalu dua jenazah, dan yang berikutnya ada satu jenazah," ungkapnya.
Makam itu dipindah ke permakaman Kudu, Genuk, Kota Semarang.
"Itu air laut sudah rendem makam, kami bongkar saat air laut surut," jelasnya.
Baca juga: Buntut Juara Liga 1 2022/2023 PSM Makassar Tak Dapat Hadiah Uang, Keuangan PSSI Diaudit
Dani mengatakan, akibat rob, banyak makam warga yang dipindah, di antaranya ke Tenggang, Terboyo, dan Genuk.