Opini

Refleksi HUT RI ke-80: Komitmen Muhammadiyah Menjaga NKRI sebagai Darul Ahdi wa Syahadah

Kemerdekaan tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui perjuangan kolektif dari berbagai latar belakang, termasuk Muhammadiyah

Editor: Rustam Aji
dok.pribadi jumai
Dr. H. KRAT. AM. Jumai, S.E., M.M - Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang | Dosen FEB Unimus 

Oleh: Dr. H. KRAT. AM. Jumai, S.E., M.M.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang | Dosen FEB Unimus

TRIBUNBANYUMAS.COM - Delapan puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah momentum sakral untuk melakukan muhasabah dan evaluasi kebangsaan. 

Kemerdekaan tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui perjuangan kolektif para pendiri bangsa dari berbagai latar belakang, termasuk organisasi Islam progresif seperti Muhammadiyah.

Dalam usianya yang telah memasuki abad kedua, Muhammadiyah terus meneguhkan komitmennya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjadikan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah—sebuah konsensus kebangsaan dan ruang kesaksian untuk mengabdi dan berkontribusi secara aktif terhadap bangsa dan negara.

Muhammadiyah dan Kemerdekaan: Sejarah Komitmen Sejak Awal

Didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah lahir sebagai jawaban atas keterbelakangan umat Islam dan keterjajahan bangsa Indonesia.

Sejak awal, Muhammadiyah telah menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan melalui dakwah tajdid (pembaharuan), pendidikan, dan pelayanan sosial.

Muhammadiyah tidak hanya berkutat dalam urusan internal keumatan, tetapi juga tampil sebagai motor perjuangan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah turut aktif dalam perjuangan nasional, seperti:

KH. Ahmad Dahlan: Tokoh pembaharu Islam dan Pahlawan Nasional, yang menanamkan semangat nasionalisme melalui pendidikan.

Ki Bagus Hadikusumo: Ketua PP Muhammadiyah yang menjadi anggota BPUPKI dan tokoh penting dalam merumuskan dasar negara.

KH. Mas Mansyur: Anggota Empat Serangkai dan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: MUI Jateng Keluarkan Fatwa Haram Proyek Peternakan Babi

KH. Fakih Usman, Jenderal Soedirman, dan Kasman Singodimedjo: Adalah putra-putra Muhammadiyah yang memiliki peran strategis dalam perjuangan militer, politik, dan diplomasi kemerdekaan.

Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah

Pandangan Muhammadiyah terhadap Pancasila ditegaskan dalam Muktamar ke-47 di Makassar (2015), yang menyatakan bahwa Pancasila adalah Darul Ahdi wa Syahadah—rumah konsensus dan kesaksian bagi seluruh warga negara Indonesia.

Pemikiran ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengakui pentingnya mitsaqan ghalizhan (perjanjian agung) dalam menjaga stabilitas sosial dan politik (QS. An-Nisa: 21).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved