Selasa, 21 April 2026

Berita Kebumen

"Butuh Berapa Korban Lagi?" Jeritan Nelayan Kebumen Soal Pemecah Ombak

Nelayan Kebumen mengeluh proyek pemecah ombak yang mangkrak justru memakan korban.

Penulis: daniel a | Editor: Daniel Ari Purnomo
DOKUMENTASI TIM BASARNAS
Nelayan Kebumen mengeluh proyek pemecah ombak yang mangkrak justru memakan korban. Dinas Kelautan sebut perbaikan permanen butuh dana Rp350 miliar dari pusat. 

DISCLAIMER: Artikel ini disusun berdasarkan data aduan masyarakat yang telah dipublikasikan di kanal resmi Lapor Gub Jateng. Seluruh isi aduan, tanggapan, serta data narasumber yang termuat di dalamnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kebumen.

TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Dengan nada geram dan putus asa, seorang warga menyuarakan jeritan hati para nelayan di pesisir selatan Kebumen.

Ia mempertanyakan kapan pemerintah akan bertindak serius memperbaiki proyek pemecah ombak yang mangkrak dan justru telah membahayakan nyawa nelayan.

Baca juga: Pesisir Kebumen Dihantam Gelombang Tinggi, 5 Kapal Nelayan Tenggalam di Laut

Menurutnya, kecelakaan laut sudah terjadi hampir setiap minggu akibat kondisi alur keluar masuk perahu yang semakin parah.

Aduan penuh emosi yang masuk pada 29 Juli 2025 ini pun mendapat jawaban mendalam dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kebumen, yang mengungkap rumitnya permasalahan di balik proyek tersebut.

Berikut adalah suara hati warga yang tidak diedit sama sekali, yang menggambarkan betapa gentingnya situasi di lapangan:

"tolong dinas kelautan dan dinas terkait kalian seolah2 tutup mata atau bagaimna? nelayan kebumen dan cilacap harus bertaruh nyawa setiap hari bahkan setiap minggu pasti ada korban laka laut,gara2 mangkraknya proyek pemecah ombak yang gagal terahir ada proggres sebelum pemilu habis itu selesai pemilu dan gak ada proggres malah membuat parah kondisi alur keluar masuk perahu!!! kalian butuh berapa banyak lagi korban baru mau berbenah???"

Menanggapi luapan emosi warga ini, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kebumen memberikan penjelasan yang runut.

Pihak DKP membenarkan bahwa kondisi perairan di pantai selatan memang sangat ekstrem dan para nelayan setiap hari harus bertaruh nyawa.

Proyek pemecah ombak atau breakwater yang dibangun pada tahun 2014 dan 2016 itu sejatinya bertujuan untuk melindungi mereka.

Namun, sebuah bencana terjadi pada tahun 2017.

Gelombang tinggi yang dahsyat membuat bongkahan batu-batu besar di ujung pemecah ombak longsor ke alur pelayaran.

Sejak saat itulah, pemecah ombak yang seharusnya melindungi justru menjadi 'jebakan' maut yang sering ditabrak perahu nelayan.

Pihak DKP juga menjelaskan mengenai "progres sebelum pemilu" yang disinggung oleh warga.

Ternyata, pada tahun 2024 lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memang telah melakukan penanganan sementara.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved