Rabu, 29 April 2026

Baru 4 dari 46 Dapur MBG Beroperasi di Purbalingga, Disdik: Butuh Solusi Cepat

Disdik Purbalingga ungkap baru 4 dapur MBG yang berfungsi dari 46 yang dibutuhkan. Tanah pemerintah akan dimanfaatkan untuk percepat program.

TRIBUN BANYUMAS/ FARAH ANIS RAHMAWATI
SOAL MBG: HUT IGTKI ke 75 — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Tri Gunawan Setiadi, saat memberikan sambutannya dalam peringatan IGTKI ke 75, di gedung Indragiri Owabong, Bojongsari, Purbalingga, Kamis (22/5/2025). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Tri Gunawan Setiadi, menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat.

Tri Gunawan menyampaikan bahwa program MBG merupakan inisiatif serius dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Namun, ia mengakui bahwa implementasi program ini di Purbalingga masih menghadapi sejumlah tantangan.

Baca juga: Siswa SMKN 2 Purwokerto Keluhkan Menu MBG, Kurang Variatif dan Terlambat Dikirim

"Tentunya tidak mudah, karena untuk memberikan makan bergizi gratis sejak 14 Februari hingga sekarang, saat ini baru 4 dapur MBG yang sudah tersedia di Purbalingga," ujarnya dalam peringatan HUT ke-75 Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) yang berlangsung di Gedung Indragiri Owabong, Bojongsari, Kamis (22/5/2025), 

Ia menjelaskan bahwa dengan perbandingan 2.500–3.000 siswa per dapur, Kabupaten Purbalingga memerlukan sekitar 46 dapur MBG untuk mencakup seluruh siswa, termasuk yang berada di madrasah dan pesantren.

"Kalau kami perhitungkan dapur MBG ini, dengan perbandingan 2.500–3.000 siswa per dapur, kami butuh sekitar 46 dapur MBG di Purbalingga," jelasnya.

Tri Gunawan menambahkan bahwa pihaknya telah mengadakan rapat untuk membahas kemungkinan pendirian dapur MBG tambahan dengan memanfaatkan fasilitas milik pemerintah.

"Seperti misalnya ada tanah pemerintah yang tidak terpakai, nanti akan digunakan jadi dapur MBG," ucapnya.

Selain kendala infrastruktur, Tri Gunawan juga menyoroti tantangan dalam mengubah kebiasaan anak-anak yang lebih memilih jajan daripada mengonsumsi makanan bergizi yang disediakan.

"Yakni, anak-anak kita ternyata lebih suka jajan, padahal ketika makan bergizi gratis itu makanannya sudah pasti memenuhi standar gizi. Tapi saya amati anak-anak kita sukanya bosan," katanya.

Ia mengimbau para guru, khususnya di taman kanak-kanak yang telah menerima program ini, untuk mengarahkan anak-anak agar mengonsumsi makanan bergizi sesuai dengan standar yang ditetapkan.

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved