Berita Banyumas

Pasar Emas Indonesia Diyakini Terus Berkembang, Begini Kata BSI Purwokerto

Pasar emas Indonesia diyakini terus berkembang, apalagi setelah muncu bank emas yang dikelola BSI. BIS Purwokerto pun mengungkap optimismenya.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: rika irawati
ISTIMEWA/BSI PURWOKERTO
BANK EMAS - Area Manager BSI Purwokerto Wahsi Prasodjo menjelaskan terkait BSI sebagai salah satu entitas yang menjalankan bisnis bank emas, di Hotel Aston Purwokerto, Selasa (18/3/2025). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Pasar emas Indonesia diperkirakan terus berkembang mengingat permintaan emas yang masih rendah sementara cadangan emas di Tanah Air cukup tinggi.

Hal ini disampaikan Area Manager BSI Purwokerto, Wahsi Prasodjo dalam keterangan tertulis, Selasa (18/3/2025).

Wahsi mengatakan, permintaan emas per kapita di Indonesia masih terendah di Asia Tenggara, yakni 0,16 gram per orang. 

Setelah ditunjuk sebagai pengelola bisnis bank emas atau bullion ban pertama di Indonesia, pada 26 Februari 2025 lalu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) optimistis bisa mendorong pengembangan pasar emas Indonesia.

"Diresmikannya BSI sebagai salah satu entitas yang menjalankan bisnis bank emas berpotensi memberikan manfaat untuk masyarakat, industri, dan insyaallah perekonomian bangsa, melalui optimalisasi ekosistem ekonomi syariah," ujar Wahsi.

Baca juga: Indonesia Resmi Punya Bank Emas, Apa Manfaatnya bagi Negara?

Mengacu kajian McKinsey, emas yang beredar di masyarakat Indonesia mencapai 1.800 ton, dari sektor hulu ke hilir. 

Sementara, jumlah perhiasan dan emas batangan sebesar 321 ton, yang merupakan aset yang dapat dimonetisasi. 

Jumlah ini berpotensi terus meningkat, mengingat Indonesia memiliki potensi cadangan emas Indonesia nomor 6 terbesar di dunia, setara dengan 2.600 ton. 

Di sisi lain, Indonesia termasuk dalam negara top 10 produsen emas global yang memproduksi sekitar 100 ton emas pada 2020.

Melalui usaha bank emas, BSI dapat menangkap nilai ekonomi di seluruh rantai pasok emas.

Memonetisasi aset emas yang kurang produktif, dan tentunya memberikan kemudahan alternatif investasi syariah.

Upaya ini pun tak terlepas dari misi BSI melanjutkan arahan pemerintah sebagai lokomotif ekonomi syariah nasional. 

Juga mendukung visi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang yang diproyeksikan mencapai 8 persen pada 2029. 

Wahsi optimistis, bank emas atau usaha bulion akan memberikan daya tarik bagi para pelaku industri hulu hingga hilirisasi emas yang memberikan nilai tambah pada rantai produksi. 

Sebab, hilirisasi logam mulia meningkatkan nilai tambah biji emas hingga 10 kali lipat. 

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved