Berita Jateng
Petani di Purbalingga Full Senyum, Bulog Bakal Beli Gabah Rp 6.500 Perkilogram
panen terbaru pada lahan seluas 180 ubin telah menghasilkan 1 ton 428 kg gabah dan selurunya telah diserap oleh Bulog.
Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA— Program penyerapan gabah oleh Bulog dengan harga 6.500/kg mendapatkan sambutan positif dari para petani di Kabupaten Purbalingga.
Di wilayah Kembaran Kulon, panen terbaru pada lahan seluas 180 ubin telah menghasilkan 1 ton 428 kg gabah dan selurunya telah diserap oleh Bulog.
Kepada Tribunbanyumas.com, Puji selaku penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian atau BPP Kecamatan Kembaran Kulon dan Bancar mengatakan bahwa para petani merasa terbantu dengan harga tersebut.
"Petani merasa lebih diuntungkan, karena sebelumnya harga gabah seringkali tidak mencapai 6.000/kg," jelasnya.
Mengingat saat ini banyak lahan sawah yang beralih fungsi, para petani di Kembaran Kulonpun sangat berantusias dengan hal ini. Produktivitas di wilayah ini berkisar antara 8-9 kwintal per 180 ubin, dan harga yang lebih tinggi dari Bulog ini tentu memberikan keuntungan bagi para petani.
Baca juga: BBPOM Temukan Kerupuk Gendar Mengandung Boraks, Dijual di Alun-Alun Kauman
Selanjutnya di Bancar, panen diprediksi akan terjadi di pertengahan bulan Maret. Tetapi tidak semua petani akan dijual ke Bulog, beberapa diantara mereka memilih untuk menyisihkan gabah untuk kebutuhan pribadi. Sebelumnya para petani Bancar menjual gabah mereka kepada tengkulak dengan harga dibawah 6.500/kg. Namun sekarang dengan adanya perbandingan harga yang lebih jelas, tentu kini petani memiliki pilihan yang lebih baik untuk menjual hasil panen.
Penyerapan gabah ini juga dilakukan langsung dengan sistem pembayaran tunai tanpa potongan. Bulog memastikan pengambilan dilakukan dilokasi yang mudah diakses oleh kendaraan roda empat.
Lebih lanjut meski sistem ini menguntungkan para petani, persaingan dengan tengkulak tetap menjadi sebuah tantangan.
Tengkulak memiliki sistem rendemen atau menghitung jumlah beras yang dihasilkan dari 100 kg gabah setelah digiling. Seringkali petani merasa dirugikan dengan hal ini, karena meski varietas gabah sama namun hasil akhir tetap berbeda akibat dari permainan harga.
Di sisi lain memasuki musim hujan, kualitas gabah juga cenderung menurun.
"Secara fisik, gabah terlihat bagus tapi banyak yang hampa atau kosong. Sehingga rendemennya berkurang. Ini membuat penyerapan tidak maksimal," ujar Puji.
Di wilayah Jatisaba dan Toyareja, panen belum dimulai. Jika ada panen, cakupannya masih kecil dan informasi tentang program Bulog belum sepenuhnya diterima oleh petani. Sosialisasi telah dilakukan melalui kepala dusun (Kadus) kepada kelompok tani (Gapoktan) agar informasi merata.
Suharso, Penyuluh BPP Kecamatan Purbalingga untuk wilayah Jatisaba dan Toyareja, menyebut bahwa petani sebenarnya mengharapkan harga Rp6.500/kg bisa diterapkan secara berkelanjutan. Namun, ada kekhawatiran apakah harga yang ditetapkan pemerintah dapat dipertahankan di musim-musim berikutnya.
“Selama ini, petani menjual kepada tengkulak meskipun harganya lebih murah, tetapi mereka selalu membeli tanpa proses yang rumit,” kata Suharso. Meskipun Bulog menawarkan harga lebih baik, banyak petani tetap merasa terikat dengan tengkulak yang sudah menjadi mitra mereka selama bertahun-tahun.
Di wilayah Jatisaba dan Toyareja, sistem penjualan gabah kering panen (GKP) belum umum. Mayoritas petani lebih terbiasa dengan sistem tebasan, di mana gabah langsung dibeli di sawah oleh tengkulak. Dengan rata-rata kepemilikan lahan hanya 0,14 hektar atau 100 ubin, petani memilih menjual cepat agar tidak repot mengurus pasca panen. Namun, sistem ini membuat harga gabah menjadi tidak stabil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Cuaca-Gumelem-banjarnegara.jpg)