20 Tahun Tsunami Aceh
Kisah 2 Ibu yang Kembali Bangkit dan Berdaya, Salawati Mulai dengan Usaha Abon Ikan
Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh bersama suami dan anak bungsu, Putra, kami mendapat kabar buruk. Saya hancur sehancur-hancurnya
TRIBUNBANYUMAS.COM, BANDA ACEH— Peristiwa tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 tidak bisa dilupakan.
Hari ini, kenangan itu muncul kembali, tapi tentu dalam suasana yang berbeda.
Bagi para korban, kenangan memilukan ini menjadi bagian sejarah hidup mereka. Tak terkeculai buat Salawati, pengusaha UMKM abon ikan dan ikan kayu atau keumamah bermerek Putra Abon.
Mendatangi rumahnya, langsung disambut aroma ikan tuna rebus memenuhi seluruh dapur, bahkan sampai halaman rumah.
Terlihat dua dandang besar teronggok di atas kompor, menggelegak berisi potongan ikan tuna kecil atau tongkol.
Aroma harum semakin terasa ketika rebusan ikan dicampur daun belimbing wuluh.
"Di Aceh, kalau merebus ikan tongkol, harus dipadu dengan daun belimbing wuluh. Ini resep turun-temurun," kata Salawati.
Dia ditemui di kediamannya di Merduati, Banda Aceh, pada pertengahan Desember 2024.
Salawati mengaku memulai usahanya jauh sebelum tahun 2004, tepatnya pada 1998.
Namun, ketika usahanya mulai berkembang, gempa dan tsunami besar melanda Aceh.
Bencana itu tak hanya menghancurkan usaha, tetapi juga merenggut dua anak perempuan Salawati yang hingga kini jasadnya belum ditemukan.
“Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh bersama suami dan anak bungsu, Putra, kami mendapat kabar buruk. Saya hancur sehancur-hancurnya,” kenang Salawati.
Rumahnya di Gampong Merduati rata dengan tanah. Akses jalan tertutup lumpur dan sampah, sehingga Salawati baru bisa menapak seminggu setelah kejadian. Ia mencari informasi tentang dua putrinya yang hilang.
"Hingga hari ini, dua puluh tahun berlalu, saya tak pernah menjumpai jasad kedua anak saya, bahkan kuburannya pun tidak tahu di mana," ujar Salawati dengan mata menerawang.
Selama dua tahun, hidupnya terasa kosong. Namun, Salawati menyadari ada satu anak laki-laki yang harus diberi kehidupan yang baik.
Perlahan, ia dan suami bangkit dari kehancuran dan mulai kembali menjalankan usaha abon ikan.
Laut yang sempat mengambil hidupnya kini memberikan kesempatan melalui ikan yang berlimpah. Setelah usia kepala enam, Salawati mulai menyerahkan pengelolaan usaha kepada anaknya, Putra (29), karena kondisi kesehatannya menurun.
“Usaha ini pernah jatuh drastis, terutama saat covid, dan kini berusaha bangkit kembali,” katanya.
Putra, yang kini melanjutkan usaha orangtuanya, mengungkapkan, “Orangtua saya sudah membangun usaha ini jatuh bangun, dan saya harus melanjutkannya.”
Pengalaman 20 tahun lalu selalu menjadi pelajaran yang terus diingatnya.
Aina (60) juga merasakan hal serupa. Warga Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, ini mengalami kehancuran akibat bencana.
Sebelumnya, ia hanya membuat kerupuk di pesisir pantai, namun bencana menghancurkan usahanya.
Kini, Aina mengalihkan usaha kerupuk menjadi kue tradisional Aceh, Adee, dengan merek "Adee Kak Aina."
Ia memulai usaha baru setelah dibantu pemerintah Jepang melalui lembaga JICA.
“Adee adalah kue khas Aceh, kami mendapat modal dan pendampingan dari pemerintah Jepang setelah tsunami,” kata Aina.
Seperti Salawati, Aina juga merasakan krisis usaha akibat pandemi Covid-19.
"Tapi itu bukan seberapa. Kami pernah hancur lebih parah saat gempa dan tsunami, jadi kami tetap semangat berusaha,” ujar Aina.
Penjabat Gubernur Aceh Safrizal ZA mengatakan, pemerintah dan masyarakat mengucapkan terima kasih kepada negara dan lembaga donor yang membantu proses rekonstruksi Aceh setelah bencana.
"Sekarang, dua dekade telah berlalu. Tsunami 2004 merenggut lebih dari 230 ribu jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur, mengubah kehidupan masyarakat," ucap Safrizal pada pembukaan Aceh International Forum, Senin (23/12/2024).
Safrizal menekankan, proses pemulihan Aceh dari 2005 hingga 2009 menunjukkan bahwa dengan gotong royong, Aceh mampu bangkit.
Rumah, sekolah, masjid, dan fasilitas publik kembali berfungsi. Aceh kini menjadi simbol ketahanan, kedamaian, dan harapan.
"Proses pemulihan Aceh adalah bukti nyata bahwa dengan kebersamaan, kita mampu bangkit dari keterpurukan," ujar Safrizal.
Salawati dan Aina, penyintas bencana, tidak akan melupakan kisah duka itu.
Namun, mereka yakin, kesempatan kedua yang mereka dapatkan harus dijalani dengan semangat untuk mewujudkan harapan yang sempat hilang. (kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "20 Tahun Tsunami Aceh, Kisah 2 Ibu yang Kembali Bangkit dan Berdaya"
| Resmi! Kas Hartadi Jadi Nahkoda Baru PSIS Semarang untuk Dua Laga Pamungkas |
|
|---|
| Sebut Wisata Banyumas Monoton, Ketua Komisi 4 DPRD Dorong Terobosan Tiket Terusan di Baturraden |
|
|---|
| Banyumas Dibidik Jadi Lokasi Proyek Nasional, Ini Lobi Besar Bupati Sadewo di Usia ke-60 |
|
|---|
| Jualan Pakai Kebaya, Cara Unik Bakul Purwasera Banyumas Peringati Hari Kartini |
|
|---|
| Banyumas Ngibing 2026 Siap Guncang Kota Lama, 24 Jam Menari Nonstop Libatkan Seniman Mancanegara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/bangkit-tsunami-aceh.jpg)