Berita Jateng
Harga Sayur di Wonosobo Anjlok, Bupati Afif Ajak ASN Borong Produk Petani
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mendorong ASN untuk membeli sayuran lokal yang sedang mengalami harga anjlok.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Harga pertanian lokal khususnya komoditas hortikultura di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mendorong ASN untuk membeli sayuran lokal yang sedang mengalami harga anjlok.
Melalui surat edaran Bupati Wonosobo nomor 236 tahun 2024 tentang Gerakan Bangga Beli Produk Hortikultura Wonosobo, Pemkab mengambil beberapa langkah-langkah dalam rangka pengendalian deflasi harga hortikultura dan menekan angka kemiskinan.
Ada 5 poin yang disebutkan dalam surat edaran tersebut, salah satunya semua ASN di perangkat daerah dan instansi vertikal, BUMN, BUMD, dan BUMS di Kabupaten Wonosobo diimbau mendukung gerakan bangga beli produk hortikultura dari petani.
Baca juga: Sembuh dari Cedera, Pebalap Berbakat Arbi Siap Tunjukkan Performa Terbaik di FIM JuniorGP Jerez
Launching Gerakan Bangga Beli Produk Hortikultura Wonosobo berlangsung pagi tadi, Kamis (12/9/2024) di halaman Pendopo Bupati. Kurang lebih 4.000 paket sayur disiapkan untuk dibeli dengan harga Rp 10.000 per paket sayur. Nantinya gerakan ini akan diadakan setiap hari Selasa dan Kamis.
Bupati Afif menyampaikan, situasi saat ini sangat menantang bagi para petani dan sebagian dari masyarakat. Maka dari itu pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengatasinya.
"Saya mengajak seluruh ASN untuk membeli sayuran lokal. Ini bukan hanya tentang mendukung petani, tetapi juga tentang menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang ada di sekitar kita," ujarnya.
Di tempat yang berbeda, Staf Ahli Perekonomian dan Keuangan Setda Wonosobo, Kristiana Dewi menjelaskan, dua bulan terakhir deflasi di Wonosobo cukup tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Dengan deflasi ini secara umum harga produk pangan mengalami penurunan khususnya komoditas hortikultura.
"Kita tahu inflasi Wonosobo di bulan Juli kemarin 1,67 persen, turun lagi di Agustus 1,28 persen. Di satu sisi memang menggembirakan untuk konsumen, karena dengan terjadinya deflasi harga ini turun. Akan tetapi tugas kita di sisi pemerintah menjaga keseimbangan, kepentingan dua sisi baik produsen maupun konsumen," jelasnya.
Baca juga: Viral, Bos Batik Pekalongan Sebar Uang Rp35 Juta. Polisi Hentikan Acara setelah Peserta Terluka
Pada komoditas hortikultura terjadi deflasi yang cukup signifikan, bahkan harga lebih dari 30-50 persen jauh di bawah break even poin (BEP). Adapun beberapa jenis sayur yang mengalami penurunan signifikan seperti labu siam, kubis, kol, dan sawi putih.
Hal ini tentu berdampak buruk bagi petani di Wonosobo yang hampir 79 persen merupakan petani hortikultura.
Maka dari itu, dalam waktu dekat ini perlu dilakukan tindakan untuk menjaga harga hortikultura sesuai standar melalui Gerakan Bangga Beli Produk Hortikultura Wonosobo.
"Dalam hal ini difasilitasi oleh salah satu BUMD yaitu PT Global Dharma Asri (GDA). PT GDA ini beli dari kelompok tani secara langsung dalam bentuk sudah dikemas per paket harga Rp 10.000 untuk sasaran 4.260 ASN dan instansi vertikal, BUMN, BUMD, serta BUMS sampai harga sayur membaik," tambahnya.
Ia berharap dengan kerja sama bersama PT GDA dapat menjadi penyeimbang mana kala terjadi surplus, mereka bisa mancari pasar di luar Wonosobo yang bisa menyerap harga layak.
Sementara saat minus atau kekurangan produk pertanian mereka juga dapat mengambil dari luar kota untuk dijual dengan harga yang terukur.
"Kami juga sedang berupaya mengajukan proposal ke kementerian untuk pengadaan cold storage. Sehingga nanti bisa menyimpan produk pertanian hortikultura ketika panen bisa disimpan sebelum dipasarkan yang lebih luas," tandasnya. (ima)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.