Berita Jateng

Harga Beras Mahal Tapi Petani Tidak Untung, Kok Bisa?

Himpunan kelompok tani Indonesia (HKTI) Jateng angkat bicara terkait kenaikan harga beras.

|
TRIBUNBANYUMAS/IMAH MASITOH
Petani di Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, merontokkan padi hasil panen menggunakan mesin teleser, Selasa (8/3/2022). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG-Himpunan kelompok tani Indonesia (HKTI) Jateng angkat bicara terkait kenaikan harga beras.

Ketua HKTI Jateng, Bambang Raya Saputra mengatakan kenaikan harga beras tidak menguntungkan petani. Kenaikan harga beras tidak diiringi kenaikan harga gabah.


"Yang naik beras petani tidak menjual beras tetapi gabah. Disini yang diuntungkan adalah tengkulak dan petani belum merasakan," tuturnya, Selasa (5/3/2024).


Bambang menduga kenaikan harga merupakan permainan para pengusaha. Pihaknya mensinyalir adanya penimbunan.


"Para tengkulak ini membeli gabah dari petani kemudian ditimbun. Jika harga naik baru dijual inilah keuntungan dari tengkulak. Sementara harga gabah belum naik," ujarnya.

Baca juga: Aliansi Rakyat Mengguat Banyumas Aksi Topo Berjemur, Wujud Protes Kecurangan Pemilu 2024


Bambang juga menyoroti resi gudang atau lumbung padi yang ada di setiap daerah. Resi gudang yang ada ternyata belum berfungsi maksimal menyebabkan harga beras naik.


"HKTI Jateng bersama pihak-pihak terkait akan menghidupkan kembali resi gudang. Hal ini bertujuan untuk membantu petani agar tetap ada pembelinya  dengan sistem kontrak dengan harga yang sudah disepakati," imbuhnya.


Ia mengatakan saat ini petani mengalami berbagai macam kesulitan yakni harga gabah tidak pasti, harga bibit mahal, dan pupuk sulit. Pihaknya ingin membantu petani dengan mencarikan bibit bagus dengan harga murah, dan pupuk  murah.


"Sehingga hasil panennya dapat dibeli resi gudang dan petani mendapat harga yang sesuai," tandasnya.

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved