Pilpres 2024
Bantah Sekjen PDIP Hasto, TKN Prabowo-Gibran Tegas Keunggulan di Kandang Banteng Bukan Kecurangan
Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menyebut kemenangan paslon 02 di kandang banteng merupakan hal yang mutlak.
Penulis: budi susanto | Editor: mamdukh adi priyanto
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menyebut kemenangan paslon 02 di kandang banteng merupakan hal yang mutlak.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto dan Sekretaris TPN Ganjar-Mahfud menyebut keunggulan Prabowo-Gibran di daerah basis PDIP atau disebut kandang banteng merupakan anomali.
Diketahui, pertarungan pilpres di sejumlah daerah basis PDIP di Jateng, Bali, DIY, pasangan Prabowo-Gibran diunggulkan.
Baca juga: Faktor Kekalahan Ganjar di Kandang Banteng Jateng dan Bali, Ada Campur Tangan Jokowi
Hasto mengemukakan, kemenangan Prabowo Gibran di kandang banteng atau basis PDIP karena ada kecurangan.
Wakil Komandan Golf (Relawan) TKN Prabowo-Gibran, Supriyanto pun membantah hal tersebut.
Ia mengatakan, kemenangan Prabowo-Gibran di kandang banteng bukan anomali dan ada dugaan kecurangan seperti yang dikatakan Hasto.
Supriyanto mengatakan ada beberapa hal yang tidak disadari elit-elit PDIP.
Baca juga: Prabowo-Gibran Unggul Sementara Di Kandang Banteng, Sudaryono: Terima Kasih Masyarakat Jateng
Meskipun dikatakan kandang banteng, tetapi kemenangan PDIP di daerah basis seperti Jateng, Jatim dan DIY tidak pernah mutlak dalam arti mencapai lebih 50 persen sehingga Pilpres dan Pilkada sangat tergantung pada figur yang dicalonkan.
"Bahkan di Bali yang paling tinggi persentase kemenangan PDIP dalam beberapa kali pilkada dan pilpres sebelum ada Jokowi juga calonnya kalah.
Artinya antara pileg pilpres dan pilkada itu punya dinamika yang berbeda," ucapnya, Sabtu (17/2/2024).
Baca juga: PDIP Ancang-ancang, Prabowo Subianto Berharap Tak Ada Oposisi di Pemerintahannya Nanti
Dikatakannya, pada Pilpres 2014 perolehan suara Jokowi jauh di atas suara PDIP karena ada tambahan dukungan tambahan dari PKB Nasdem dan kekuatan non partai dari relawan yang menggalang suara massa mengambang dan swing voter.
Begitu juga dengan Pilpres 2019, perolehan suara Jokowi Maruf Amin jauh diatas suara PDIP karena tambahan suara partai pendukung koalisi seperti PKB Golkar PPP sangat signifiikan serta dukungan relawan Jokowi masih solid.
"Pada pemilu kali ini capres cawapres Ganjar Mahfud hanya diusung dari partai parlemen PDIP dan PPP, tetapi backbone (tulang punggung) hanya PDIP karena di daerah basis Jawa Bali suara PPP tidak signifikan," ucapnya.
Menyerang Jokowi
Menurutnya, pernyataan elit PDIP yang selalu meremehkan relawan, membuat relawan yang selama ini berjuang memenangkan Jokowi dan PDIP beralih dukungan kepada Prabowo Gibran yang didukung oleh koalisi mayoritas suara dan kursi di parlemen seperti Gerindra, Golkar, PAN dan Demokrat.
Pada kampanye kemarin, banyak pernyataan elit PDIP yang blunder menyerang Presiden Jokowi dan program populis Prabowo-Gibran seperti makan siang plus susu gratis untuk anak di sekolah dan pesantren, Bansos dan BLT yang sangat berguna bagi masyarakat bawah.
"Elit PDIP lupa jika konstituen partai ini adalah wong cilik, kaum marhaen dan penggemar Jokowi.
Sehingga sangat logis jika kemudian perolehan suara PDIP turun dan pendukungnya ikut memilih Prabowo Gibran yang melanjutkan Program populis Jokowi," terangnya.
Ia mengatakan, hasil hitungan cepat atau quick count dari lembaga kredibel yang terdaftar di KPU sesuai mekanisme UU No 7 tahun 2017 telah memperlihatnya angka-angka yang tidak jauh berbeda.
Bahwa perolehan suara PDIP meskipun unggul tetapi turun dari 20 persen menjadi 16 persen dan karena Ganjar-Mahfud identik dengan petugas partai makanya suaranya juga tidak jauh berbeda dengan perolehan suara partainya sekitar 16 persen maksimum 20 persen saja.
Supriyanto memberikan contoh di TPS kampungnya Hasto, Sekjen PDIP di Sleman, di sana PDIP unggul di pileg tapi Prabowo-Gibran menang di pilpres.
Baca juga: Puan Maharani di Banyumas: Jateng Tetap Kandang Banteng
"Hasil Pemilu 2024 ini mestinya bisa menjadi evaluasi dan refleksi kenapa suara PDIP turun dan Ganjar Mahfud jadi juru kunci, bukan menyalahkan pihak lain," jelasnya.
Ditambahkannya, seharusnya saling hormati suara rakyat, dalam demokrasi suara rakyat adalah suara tuhan 'Vox Populi Vox Dei'.
Sebagai partai nasionalis paling tua di Indonesia, PDIP dapat memberi dukungan pada platform rekonsiliasi dan persatuan nasional yang disampaikan capres cawapres Prabowi-Gibran.
"Memastikan janji kampanye diwujudkan, mengawal dan mengawasi program populis kerakyatan seperti makan siang dan susu gratis bagi anak-anak sekolah yang dinikmati anak-anak wong cilik dan kaum marhaen sebagai konstituen terbesar partai," tambahnya. (*)
Baca juga: Kandang Banteng Berhasil Digetarkan Gibran? Ini Jawaban Ganjar
Gugatan Soal Keabsahan Gibran sebagai Cawapres Ditolak PTUN Jakarta, Begini Sikap Tim Hukum PDIP |
![]() |
---|
Ditolak Partai Gelora, Begini Jawaban Santai PKS atas Wacana Gabung ke Pemerintahan Prabowo-Gibran |
![]() |
---|
Keresahan Parpol Pengusung Prabowo-Gibran saat Parpol Lawan Merapat: PKS Paling Banyak Ditolak |
![]() |
---|
PKS Buka Peluang Masuk Koalisi Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ditentukan setelah Halalbihalal |
![]() |
---|
Pilpres 2024 Rampung, Timnas Amin Dibubarkan. Cak Imin: Tugas Sudah Selesai |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.