Berita Purbalingga

Ada Perpustakaan Bumi di Cartoon Village Sidareja Purbalingga, Apa Saja Isinya

Sidareja menjadi desa kartun pertama di Indonesia memilih peringatan Sumpah Pemuda sebagai hari peresmian Perpustakaan Bumi.

Ist
Peresmian Perpustakaan Bumi yang hadir di Desa Sidareja, Kaligondang, Purbalingga, Sabtu (28/10/2023). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA - Perpustakaan Bumi hadir di sebuah desa yang sedang bertransformasi menjadi Cartoon Village Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga.


Sidareja menjadi desa kartun pertama di Indonesia memilih peringatan Sumpah Pemuda sebagai hari peresmian Perpustakaan Bumi.


Tujuannya jelas agar generasi muda khususnya di Desa Sidareja Purbalingga, Jawa Tengah ini meningkatkan kegemarannya membaca.


Selain itu memperluas wawasan dan semakin mematangkan karakter menjadi generasi selalu dapat mempertanggungjawabkan opini dan segala hal yang dilakukannya di masa datang. 


Keberadaan Perpustakaan Bumi di Cartoon Village Sidareja Purbalingga ini, akan semakin mewarnai kegiatan para pemuda Kie Seni yang terdiri dari 8 Kelompok Seni ini. 

Baca juga: Rumah dan Kios di Wonosobo Terbakar Usai Api Sambar Tumpahan Bensin


Salah satunya contohnya adalah ketika Kie Karawitan Alit akan memulai latihan rutinnya.


Anak-anak diminta membaca selama 30 menit dan yang nantinya akan dicek secara random pembelajaran apa yang dibaca anak l-anak oleh pelatih karawitan. 


Hal ini untuk melatih dan mengasah juga focus anak desa dan pemahaman terhadap sebuah bacaan.


Menurut Pegiat Kie Art, Slamet Santosa, peresmian perpustakaan dihadiri komunitas baca seBanyumas raya seperti Baca bareng pwt, Baca Baci, literasi Purbalingga dan komunitas guru SD N 1 Sidareja.


Mereka akan berpartisipasi dalam project Menulis Buku Bersama Sahabat Bumi.


Beratus ratus tahun yang lalu sejarah bangsa Indonesia banyak ditemukan dalam prasasti batu ataupun goresan dalam lontar – lontar kuno. 

Baca juga: Polda Jateng Gagalkan Penyelundupan 72 Mobil dan Motor, Dikirim ke Timor Leste Lewat Tanjung Emas


Dan secara bertahap banyak sejarah para leluhur akhirnya dapat terangkai dan dipelajari walaupun memang banyak juga yang masih membutuhkan proses dalam menterjemahkannya. 


"Rasanya menjadi hal yang authentic dan tak lekang oleh waktu di era sekarang ini Buku tetap dapat dijadikan sebagai sebuah mahakarya dan identitas.


Karena didunia ini apapun dapat terjadi termasuk misalnya gangguan dalam system digital," katanya kepada Tribunbanyumas.com, dalam rilis, Selasa (31/10/2023).


Pengalaman menulis buku akan menjadi pengalaman yang berbeda dari status seseorang yang selama ini hanya gemar membaca saja akhirnya dapat menjadi seorang penulis.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved