Pencabulan Bocah SD

Bocah SD Korban Pencabulan Bantarsari Cilacap Keluar dari Sekolah, Alami Pelecehan Sejak Kelas 2

Bocah SD korban pencabulan di Kecamatan Bantarsari, Cilacap, Jateng, keluar dari sekolah.

Penulis: Pingky Setiyo Anggraeni | Editor: mamdukh adi priyanto
Trbun Lampung/Dody Kurniawan
Ilustrasi pencabulan atau pelecehan seksual. Bocah SD korban pencabulan di Kecamatan Bantarsari, Cilacap, Jateng, keluar dari sekolah. Diberitakan sebelumnya, kasus pencabulan anak SD ini viral di media sosial. Korban mengalami pelecehan seksual sejak kelas 2 SD. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, CILACAP - Bocah SD korban pencabulan di Kecamatan Bantarsari, Cilacap, Jateng, keluar dari sekolah.

Diberitakan sebelumnya, kasus pencabulan anak SD ini viral di media sosial.

Korban mengalami pelecehan seksual sejak kelas 2 SD.

Baca juga: Kasus Pencabulan Anak SD di Cilacap yang Viral, Camat Bantarsari Buka Suara

Camat Bantarsari, Hari Winarno menuturkan, bahwa ada laporan dari masyarakat terkait dugaan kasus pencabulan.

Dikatakan Hari bahwa laporan pengaduan dugaan pencabulan itu telah masuk ke Polsek Bantarsari sejak Rabu (27/9/2023) lalu.

Kemudian, Polsek Bantarsari menyerahkan kepada Polresta Cilacap untuk pemeriksaan lebih lanjut karena terduga korban merupakan anak di bawah umur.

terkait informasi bahwa anak tersebut putus sekolah Hari membenarkannnya.

Baca juga: VIRAL, Bocah SD di Bantarsari Cilacap Dicabuli 7 Orang, Orang Tua Korban Lapor Polisi

Bahkan Hari juga menyebut bahwa anak tersebut putus sekolah sejak 1 tahun belakangan ini, atau saat anak duduk di bangku kelas 4.

"Perlu diluruskan, informasi yang viral di media sosial bahwa (pencabulan) dilakukan saat anak duduk di kelas 3 - 5 SD itu salah, yang benar tidak bersekolah di SD tapi bersekolah di MI," katanya.

Terkait alasan putus sekolah, Hari sendiri belum mengetahui secara pasti apakah karena dugaan aksi pencabulan atau faktor lain.

Namun berdasarkan informasi dari orang tua nya, saat kecil si anak pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan benturan.

Benturan itu kemudian membuat adanya gumpalan darah di otak yang mempengaruhi kerja syaraf.

Sehingga efeknya penerimaan terhadap pelajaran sulit dan tidak bisa diikuti.

Kemudian apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.

Baca juga: Sambil Sesenggukan, Yanti Cerita Soal Bunker Milik Ponpes yang Jadi Tempat Pencabulan di Semarang

"Jadi dia kelas 4 keluar sekolah, tetapi masih didalami penyebabnya, belum tentu pencabulan juga.
Jadi masih didalami pihak kepolisian," ujarnya.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved