Berita Tegal

Nelayan di Tegal Sambat, Kenaikan Harga BBM Menambah Utang

Nelayan di kabupaten Tegal mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berimbas pada turunnya pendapatan.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Desta Leila Kartika
Nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Larangan, Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, menerima bantuan paket sembako dari Polres Tegal, Rabu (21/9/2022). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI - Nelayan di kabupaten Tegal mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berimbas pada turunnya pendapatan.

Akibatnya, banyak nelayan di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Larangan di Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, kini terjerat utang.

Ini terjadi karena biaya solar untuk kapal membengkak. Begitu pula harga kebutuhan pokok untuk kehidupan sehari-hari ikut naik.

Sementara, harga ikan di pasaran masih murah. Kondisi ini membuat mereka makin sulit.

"Saya merasakan berat sekali dengan adanya kenaikan harga BBM ini. Apa-apa naik tapi harga jual ikan masih murah. Ya, bukannya untung malah buntung," tutur Sadri, seorang nelayan di TPI Larangan, Rabu (21/9/2022).

Baca juga: Bawaslu Tegal Buka Lowongan 54 Panwascam untuk Pemilu 2024, Ini Syarat dan Tanggal Pendaftarannya

Baca juga: Kemenangan Perdana Persekat Tegal di Liga 2 atas Nusantara United Didedikasikan untuk Mantan Pelatih

Jika biasanya sekali berangkat melaut Sodri menyiapkan Rp2 juta untuk membeli solar dan kebutuhan lain, sejak harga BBM naik, biaya solar bertambah menjadi sekitar Rp3 juta.

Hasil tangkapan akhirnya hanya cukup untuk menutup ongkos melaut. Kalau pun ada, hasilnya sangat tipis dan turun drastis.

"Katakan, saya biasanya sehari melaut dapat untung Rp 200 ribu, sekarang paling Rp 100 ribu," katanya.

Akhirnya, menurut Sadri, banyak nelayan terlilit utang karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Biasanya, utang ke bos kapal, pedagang ikan, dan penyetok ikan. Ya, mau bagaimana lagi, kondisinya memang lagi susah," ujarnya.

Senada disampaikan Ismanto, nelayan lain. Biaya solar sekali melaut naik dari Rp1 juta menjadi Rp2 juta.

Sementara, hasil tangkapan cenderung stabil.

"Imbasnya, biaya operasional membengkak, padahal, ikan yang dihasilkan stabil, tidak ada peningkatan sama sekali," papar Ismanto.

Baca juga: Terungkap! Pelaku Pembobol Mesin ATM di Lebaksiu Tegal, Ini Penuturan Polisi

Baca juga: BREAKING NEWS: Baru Tiga Laga, Pelatih Persekat Tegal Jadi Korban Kerasnya Liga 2, Erwan Mundur!

Ismanto juga membenarkan jika banyak nelayan, khususnya anak buah kapal (ABK), yang terlilit utang.

Hal tersebut dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga BBM."

Halaman
12
Sumber: Tribun Banyumas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved