Senin, 27 April 2026

Berita Banjarnegara

Pot Bunga Serabut Kelapa, Kerajinan Tangan dari Difabel Banjarnegara

Ia berlatih membuat kerajinan pot bunga dari serabut kelapa dari temannya sesama difabel.

tribunbanyumas/aqy
Jirno, difabel asal Desa Kutawuluh, Banjarnegara berkarya di atas kursi roda 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANJARNEGARA - Merintis usaha di tengah Pandemi Covid 19 bukan hal mudah.

Alih-alih maju, untuk sekadar bertahan, pengusaha sudah bersyukur.

Demikian halnya Jirno, pelaku UMKM dari Desa Kutawuluh, Purwanegara, Banjarnegara.

Perjuangan Jirno untuk mengembangkan usahanya lebih berat karena kondisi fisiknya yang kurang.

Baca juga: Masyarakat Dieng Rentan Keracunan Gas, Ini Saran Ahli Geokimia dari Unsoed agar Tetap Aman

Usai kecelakaan kerja 2016 lalu, Jirno harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda.

Ia pun sempat frustasi hingga akhirnya bisa bangkit.

Jirno tak mau banyak bergantung dengan orang lain.

Meski dalam urusan tertentu, ia tetap tidak bisa lepas dari bantuan orang lain di sekitarnya.

Jirno masih merasa menjadi tulang punggung yang bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya.

Baca juga: Jelang Ramadan, Makam Djoko Kahiman dan Mbah Lambak di Dawuhan Banyumas Dipadati Peziarah

Ia berlatih membuat kerajinan pot bunga dari serabut kelapa dari temannya sesama difabel.

Meski tak punya pengalaman bisnis, Jirno tak takut mencoba.

"Dengan kondisi seperti ini, tetap saya masih bergantung (butuh bantuan) orang lain.

Tapi paling tidak, bisa mengurangi," katanya, Senin (28/3/2022).

Baca juga: Kesuksesan Usaha Keramik Naruna yang Bikin Penasaran Ganjar, Penjualan Naik Pesat saat Pandemi

Karyanya ternyata diapresiasi banyak orang.

Pesanan demi pesanan mulai berdatangan.

Jirno tak ingin orang membeli produknya hanya karena kasihan.

Ia lebih senang pelanggan menghargai produknya karena mutu.

Karena itu, ia terus berupaya menyempurnakan produknya.

Baca juga: Minyak Goreng Masih Langka, Polresta Banyumas Terjunkan Tim Pantau Harga di Pasar Tradisional

Jirno membuat produk potnya lebih bervariasi, mulai berbentuk segitiga, bundar, kotak, hingga berbentuk hati untuk memikat pelanggan.

Jirno memanfaatkan media sosial untuk promosi.

Dari situ, ia berhasil menggaet banyak pelanggan di seluruh penjuru negeri.

"Pernah kirim juga ke luar Jawa," katanya.

Baca juga: Cegah Kerumunan, Panitia Pilkades Serentak di Cilacap Atur Jadwal Pemilih di TPS 100 Orang Per Jam

Pada musim-musim tertentu, misal Agustus 2021 lalu, Jirno sempat kewalahan melayani pesanan.

Permintaan tinggi, sementara produksinya masih terbatas.

Jirno memutar cara untuk meningkatkan produksi.

Hingga ia bekerjasama dengan temannya untuk memenuhi permintaan pelanggan yang membludak.

Tapi usaha memang ada pasang surutnya.

Akhir-akhir ini, permintaan diakuinya sedang turun.

Baca juga: Kenapa Dinamakan Gili Tugel Tegal? Ini Penjelasa Asal Usulnya

Agar produksinya tetap stabil, Jirno sebenarnya berharap ada pengepul yang mau menampung produknya.

Dengan begitu, ia bisa produksi tiap hari dengan penghasilan yang lebih pasti.

Jirno kini juga sudah memiliki mesin untuk menggilas serabut kelapa (tepes) menjadi bahan baku kerajinan.

Dengan begitu, ia bisa menghemat ongkos produksi dari pembelian bahan baku.

Ia juga bisa memproduksi dalam jumlah besar karena bahan baku melimpah di rumah.

"Saya berharapnya ada pengepul yang menampung.

Kalau menunggu pesanan, kadang ramai kadang sepi," ujarnya.

Baca juga: Summit Kota Sehat 2022, Ganjar Minta Ada Perbaikan Tata Kelola Sektor Kesehatan

Di sisi lain, Jirno sebenarnya butuh alat transportasi untuk memasarkan produknya.

Selama ini, ia hanya mengandalkan media sosial untuk memasarkan produknya karena bisa dilakukan dari rumah.

Jika memiliki sepeda motor roda tiga, Jirno bisa lebih leluasa memasarkan produknya secara offline, atau dengan cara berkeliling.

Ia sebenarnya sudah meminta bengkel untuk memodifikasi sepeda motor miliknya yang ia beli dengan penuh perjuangan.

Baca juga: Preman Stasiun Poncol Semarang Viral di Tiktok, Arogan Turunkan Penumpang Taksi Online

Hanya ia sampai saat ini belum bisa menebus kendaraan modifnya karena belum memiliki cukup uang.

"Untuk modif sekitar Rp 7 juta.

Saya baru DP Rp 2 juta.

Kekurangannya saya tidak ada uang," katanya.(*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved