Berita Tegal
Mengungkap Sejarah Tugu Shuttlecock di Kota Tegal, Wijanarto: Pernah Jadi Refensi Internasional
Menurut Wijanarto, hal menarik di masa jayanya industri shuttlecock di Tegal adalah terciptanya sirkular ekonomi bagi masyarat di sekitar pabrik.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: deni setiawan
TRIBUNBANYUMAS.COM, TEGAL - Tegal, daerah di bagian barat Jawa Tengah, pernah memiliki jejak sejarah berjayanya industri shuttlecock atau kok.
Bukan hanya di lingkup nasional, bahkan pernah menjadi referensi kejuaraan badminton internasional.
Masa jaya itu terjadi pada era 1970- 1980 an.
Baca juga: Dorres Awalnya Malu Pakai Seragam TK, Begini Cara Pejabat Pemkot Tegal Hibur Peserta Vaksinasi Anak
Baca juga: Kota Tegal Bakal Gunakan Vaksin Pfizer, Sasaran Utama Vaksinasi Dosis Ketiga Ada 23 Ribu Lansia
Baca juga: Dinkes Kota Tegal: Pekan Depan Mulai Vaksinasi Dosis Ketiga, Gunakan Vaksin Moderna
Baca juga: Dua Hari, 112 Pengendara Motor Berknalpot Brong di Kota Tegal Kena Tilang
Industri shuttlecock juga masuk dalam tiga industri besar dan berpengaruh di Tegal, selain industri logam dan teh.
Tiga industri tersebutlah yang dulunya menyokong julukan Tegal Jepang-nya Indonesia.
Kejayaan industri itu dibuktikan dengan berdirinya tiga tugu besar shuttlecock di Tegal.
Tugu pertama bersponsor Garuda Shuttlecock di Jalan Raya Tegal- Pemalang.
Kedua, bersponsor Gadjah Mada Shuttlecock di Jalan Wahidin Sudirohusodo, dan terakhir bersponsor Sinar Mutiara Shuttlecock di Perempatan Kejambon.
Tetapi masa kejayaan tersebut kini sudah redup.
Bahkan, mungkin banyak masyarakat yang tidak mengetahui alasan berdirinya tiga tugu besar shuttlecock di Tegal.
Sejarawan Pantura, Wijanarto mengatakan, ketiga tugu itu menjadi jejak penanda bahwa industri shuttlecock pernah berjaya di Tegal.
Keberadaannya sudah ada sejak lama, sejak era 1990-an.
Karena saat itu, industri shuttlecock juga memainkan peran penting dalam mengembangkan industrialisasi selain teh dan logam.
“Sebetulnya ini menjadi sebuah jejak historis."
"Bahwa industri shuttlecock di Tegal pernah berjaya."
"Sampai sekarang pun masih ada, tetapi tidak seperti dulu,” kata Wijanarto kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (15/1/2022).
Wijanarto menjelaskan, keberadaan industri shuttlecock di Tegal mulai ada sejak era 1970-an.
Saat itu, pabrik terbesar adalah Garuda Shuttlecock yang beralamat di Jalan Serayu, Kota Tegal.
Pabrik tersebut milik warga Tegal yang merupakan peranakan Tionghoa.
Bermula dari pabrik besar itu, lambat laun lahir industri rumahan yang juga memproduksi shuttlecock.
Bahkan ada perkampungan yang kemudian menjadi sentra pengrajin shuttlecock.
Seperti sentra pengrajin shuttlecock di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.
“Bahkan, industri shuttlecock itu menjadi referensi untuk gelaran internasional."
"Tapi itu pada 1970- 1980 an."
"Ditunjang oleh beberapa sentra industri selain Garuda Shuttlecock, ada Lawatan,” ujarnya.
Ciptakan Sirkular Ekonomi
Menurut Wijanarto, hal menarik di masa jayanya industri shuttlecock di Tegal adalah terciptanya sirkular ekonomi bagi masyarat di sekitar pabrik.
Banyak masyarakat yang menikmati jayanya industri tersebut.
Ia mencontohkan, seperti masyarakat di sekitar pabrik Garuda Shuttlecock yang rumahnya dekat bengkel kapal.
Saat itu, mereka rata-rata membuat selongsong shuttlecock untuk kemudian dijual ke pabrik.
“Sejak ada kemunduran, rumah-rumah pembuat selongsong itu kemudian hilang."
"Padahal itu menarik."
"Bahwa ada hubungan antara pabrik dan masyarakat yang menjadi sirkulasi dan saling menunjang,” jelasnya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (15/1/2022).

Baca juga: Berawal dari Hobi, Petugas Rekam Medis asal Linggasari Banyumas Hasilkan Rupiah dari Buat Cosplay
Baca juga: Bupati Husein Apresiasi Bakat Menggambar Anak-anak Banyumas: Jadi Ajang Mengekpresikan Suasana Hati
Wijanarto mengatakan, berkembangnya industri shuttlecock saat itu, juga sempat meningkatkan antusiasme masyarakat dalam menggeluti olahraga badminton.
Terutama bagi masyarakat yang merupakan peranakan Tionghoa.
Saat itu, juga sempat ada pendidikan atlit badminton di Banjaran, Kabupaten Tegal.
Sementara atlet badminton dari Tegal, seperti Hariamanto Kartono dan Simon Santoso.
“Olahraga badminton sejak dulu sudah banyak digemari oleh masyarakat Tegal."
"Terutama banyak diikuti oleh anak-anak peranakan Tionghoa,” katanya.
Perlu Pengkajian
Wijanarto menilai, baik Pemkot Tegal maupun Pemkab Tegal mestinya melakukan pengkajian atas transisi yang dialami industri shuttlecock.
Karena industri shuttlecock kian meredup.
Padahal, industri tersebut memiliki nilai strategis yang tinggi.
Misalnya dengan tumbuhnya sentra pengrajin shuttlecock di Desa Lawatan, Kabupaten Tegal.
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir industri tersebut justru stagnan.
“Fenomena ini mestinya harus dikaji kembali."
"Sekarang gelar Tegal Jepang-nya Indonesia dipertanyakan kembali."
"Hal itu karena semakin redupnya industrialisasi itu,” katanya.
Wijanarto mengatakan, ketiga tugu yang ada pun tidak hanya berbicara tentang simbol shuttlecock.
Karena itu, semestinya ada narasi sejarah yang dituliskan di tugu tersebut.
Isinya misalkan menyampaikan bahwa industri shuttlecock pernah lahir sejak kapan, hingga sekarang.
Kemudian industri shuttlecock pernah menyumbangkan prestasi dalam dunia perbulutangkisan.
“Harusnya di situ ada keterangan, narasi sejarah industri shuttlecock di Tegal."
"Sehingga generasi muda pun akan mengetahui sejarah itu,” pesannya. (*)

Baca juga: Awas, Pengendara Motor Knalpot Brong di Kebumen Bisa Didenda Rp 250 Ribu
Baca juga: Dini Hari Terdengar Suara Bruk, Dua Rumah Warga Selogiri Kebumen Rusak Tertimpa Longsor
Baca juga: Perahu Pemancing Terbalik setelah Dihantam Angin Kencang di Perairan Cilacap, Dua Orang Hilang
Baca juga: Remaja 17 Tahun asal Cilacap Ditangkap Polisi Lagi, Kali Ini Curi Disel Air di Banyumas