Berita Salatiga
Dicat Warna-Warni, Makam di Argomulyo Salatiga Ini Tak Lagi Angker
Kesan angker tak lagi terlihat di tempat pemakaman umum (TPU) Singo Dongso Karangkepoh I di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SALATIGA - Kesan angker tak lagi terlihat di tempat pemakaman umum (TPU) Singo Dongso Karangkepoh I di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.
Tempat peristirahatan terakhir bagi warga yang telah meninggal itu bahkan terkesan meriah lantaran warna warni yang terlihat.
Tak hanya lukisan di dinding pembatas makam, kijing makam juga memiliki warna berbeda-beda. Ada cokelat, oranye, hijau, dan warna lain.
Tampilan pemakaman yang menarik dan unik itu berawal dari ide juru kunci Toni Priyanto.
Awalnya, Toni mengecat tembok makam. Kemudian, merembet ke nisan-nisan yang ada.
"Batu-batu besar di bawah pohon juga dicat agar tidak memberi kesan menakutkan," jelasnya, dikutip dari Kompas.com, Senin (13/9/2021).
Baca juga: Niat Cari Tambahan Biaya Berobat Anak, Warga Salatiga Ini Malah Dikejar Tagihan Member Arisan Online
Baca juga: Ada Tunawisma Kelaparan, Bhabinkamtibmas di Salatiga Telaten Suapi sebelum Bawa ke Rumah Singgah
Baca juga: Dapat Izin dari Satgas Penanganan Covid, Disdik Salatiga Bakal Gelar PTM Mulai 6 September 2021
Baca juga: Wisata Rekomended di Salatiga, Kolam Renang Gratis di Tengah Permukiman, Berisi Ribuan Ikan
Toni baru empat bulan menjadi juru kunci.
Dia awalnya prihatin karena makam semakin sepi akibat tidak ada orang yang berkunjung mengirim doa untuk keluarga dan kerabatnya.
Apalagi, di masa pandemi Covid-19, intensitas warga berkegiatan di luar rumah berkurang, termasuk berziarah.
"Ya, memang, alasannya macam-macam. Tapi, makam itu tidak boleh sepi karena semua manusia yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah," paparnya.
Dia pun mulai mengecat tembok dengan aneka warna.
"Saya beli cat sendiri. Lalu, banyak yang mendukung, pengurus makam lapor ke kelurahan dan warga, akhirnya gotong-royong untuk cat tembok dan nisan-nisan," kata Toni.
Di satu sisi tembok, aneka warna terlihat untuk menggambarkan keceriaan.
Di sisi lain, ada gambar nelayan menangkap ikan dan kata-kata pengingat untuk manusia.
"Intinya satu, tidak boleh ada gambar yang menyeramkan. Kita ingin semua bisa berkunjung ke makam, termasuk anak-anak, dan berdoa dengan baik tanpa nuansa ketakutan," tegas Toni.