Berita Video

Video Usaha Bedug di Banyumas Mulai Ada Orderan

Suara gergaji mesin nyaring memotong setiap bagian dari kayu trembesi di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. 

"Pandemi mati total tidak ada pesanan, sejak Maret 2020 hingga akhir tahun." 

"Barulah menjelang puasa ini ada satu dua tiga pesanan," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (15/4/2021). 

Dia menuturkan, anjloknya pesanan bedug tidak lain karena pengaruh kebijakan tidak diperbolehkan salat jamaah di masjid kala itu. 

Layaknya baru merintis, usaha pembuatan bedug miliknya seperti kembali ke awal. 

Jika sebelum pandemi biasanya saat puasa dan Lebaran kebanjiran orderan hingga ratusan bedug yang dipesan dari luar daerah. 

Saat ini pesanan hanya berkisar 50 persen dari waktu sebelum pandemi.

Rasa syukur itu tetap dipanjatkannya, karena masih diberi kesempatan bangkit dan memulai lagi usahanya. 

Saat ini rata-rata dalam sehari ia bisa menyelesaikan tiga bedug ukuran kecil, 50 hingga 60 sentimeter yang dihargai Rp 2 juta. 

Bedug ukuran 80 sentimeter dihargai Rp 5,5 juta, satu meter Rp 11 juta, dan yang paling besar adalah ukuran 1,5 meter Rp 45 juta. 

Dia berkata, usaha bedugnya kembali menggeliat sejak tiga bulan lalu dan mempekerjakan lima orang. 

Bedug buatannya ini tergolong awet dan tahan lama. 

Karena menggunakan bahan kayu trembesi yang awet sampai 15 tahun dan menggunakan kulit sapi atau domba.

Pemesan bedug buatannya kali ini datang dari berbagai wilayah mulai dari Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Brebes, hingga Jakarta.

Bedug terbesar yang pernah dibuatnya adalah ukuran 1,5 meter yang digunakan di Masjid Toha Kedungwringin, Kabupaten Banyumas. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Banyumas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved