Breaking News:

Berita Tegal

Harga Kedelai Tak Kunjung Turun, Pedagang di Pasar Trayeman Slawi Tegal Akhirnya Bikin Tempe Ekomis

Darwati, pedagang tempe di Pasar Trayeman Slawi mengatakan, kenaikan harga kedelai ini dirasakan sejak akhir tahun lalu.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/DESTA LEILA KARTIKA
Darwati, pedagang tempe di Pasar Trayeman Slawi, menunggu pembeli di lapaknya, Senin (1/3/2021). Kenaikan harga kedelai yang masih berlangsung membuat produksi tempe Darwati menurun. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI - Penjual tempe di Pasar Trayeman Slawi, Kabupaten Tegal, mengeluhkan harga kedelai yang masih tinggi, Rp 10 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya, harga kedelai di kisaran Rp 6 ribu-Rp 7 ribu per kilogram.

Darwati, pedagang tempe di Pasar Trayeman Slawi mengatakan, kenaikan harga kedelai ini dirasakan sejak akhir tahun lalu.

Akhirnya, sejak awal 2021, Darwati menaik harga tempe yang dijual. Pasalnya, tempe yang dia buat, hanya menggunakan kedelai tanpa campuran bahan lain.

Baca juga: Punokawan Berkeliling Desa Bumijawa Tegal, Sosialisasikan Keamanan dan Kehalalan Vaksin Covid

Baca juga: Terlihat Ngobrol di Acara Pembukaan TMMD, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal Sudah Akur?

Baca juga: Asal Usul Kota Tegal: Berawal dari Nama Teteguall, Pemberian Pelaut Portugis

Baca juga: Kisah Kayem, Lansia di Kota Tegal Sudah Setahun Mengidap Kanker Payudara, Belum Dapat Penanganan

Menurut Darwati, menaikkan harga tempe yang dijual lebih baik dibanding mencampur bahan tempe yang bisa membuat pelanggan kecewa.

Harga tempe Darwati naik Rp 1000 per kotak. Meski begitu, dia juga membuat tempe ukuran ekonomis yang dijual Rp 1000 untuk mengakomodasi pembeli yang ingin harga murah.

"Pada akhirnya, supaya tetap bisa jualan dan ada pemasukan, saya menaikkan harga Rp 1.000 per papan tempe. Yang biasanya saya jual Rp 4 ribu, sekarang 5 ribu. Tapi saya juga membuat tempe ukuran kecil, harganya Rp 1.000," jelas Darwati saat ditemui di Pasar Trayeman, Senin (1/3/2021) kemarin.

Darwati juga menurunkan produksi tempe. Jika sebelumnya dia membuat tempe dari 50 kilogram kedelai, kini hanya 35 kilogram kedelai per hari.

Pengurangan produksi ini juga dilakukan lantaran permintaan pelanggan ikut menurun.

"Harapan saya, harga kedelai bisa stabil lagi, jangan naik terus. Sehingga, pembeli banyak lagi seperti biasanya. Kalau sekarang, jujur, cenderung sepi," ujarnya. (*)

Baca juga: Gerakan Tanah di Gumingsir Banjarnegara Rusak Rumah dan TK, Jalan Hanya Bisa Dilalui Motor

Baca juga: 12 Tahun Menikah, Artis Wulan Guritno Gugat Cerai Adilla Dimitri

Baca juga: Banyak Perempuan Jadi Korban Cyber Stalking, Ini Saran Penanganan Menurut LBH Apik Semarang

Baca juga: Perusahaan Rokok di Kudus Setuju Vaksinasi Gotong Royong, Karyawan Mulai Didaftarkan ke Kadin

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved