Breaking News:

Berita Kebumen

Pemkab Kebumen Bakal Relokasi 8 Rumah di Kawasan Tanah Labil di Grenggeng Karanganyar

Ada delapan rumah yang terdampak gerakan tanah di Dusun Pesimpar RT 05 RW 04 Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar. Para penghuninya bakal direlokasi.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rika irawati
TRIBUNBANYUMAS/Istimewa
Bupati Kebumen Yazid Mahfudz meninjau lokasi longsor di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Selasa (2/11/2020). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, KEBUMEN - Pergerakan tanah di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, sempat menyita perhatian. Ini menyusul kabar bencana alam itu sebagai fenomena likuifaksi. Namun, belakangan, isu itu dibantah.

Meski jelas bukan likuifaksi (pencairan tanah) seperti yang terjadi saat gempa dan tsunami Palu, 2018 lalu, pergerakan tanah di Kebumen ini tetap mesti diwaspadai.

Warga pun diminta menghindari lokasi tanah bergerak untuk mengurangi risiko dampak bencana yang lebih besar. Sebab, kondisi tanah masih labil.

Ada delapan rumah yang terdampak gerakan tanah di Dusun Pesimpar RT 05 RW 04 Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar. Para penghuninya pun bakal direlokasi.

"Segera kami relokasi agar warga yang terdampak segera pindah," kata Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, Selasa (3/11/2020).

Baca juga: Benarkah Longsor di Grenggeng Kebumen Akibat Fenomena Likuifaksi? Begini Kata Pakar Geologi Unsoed

Baca juga: Ini Laporan Lengkap BPBD Terkait Banjir dan Dampaknya di Kebumen

Baca juga: Cegah Banjir Lagi Akibat Luapan Sungai, Pemkab Kebumen Kebut Perbaikan Tanggul Jebol

Baca juga: Terjaring Operasi Yustisia di Kebumen, Warga Tak Pakai Masker Disanksi Ajak 5 Orang untuk Patuhi 3M

Bupati mengatakan, dari delapan rumah itu, penghuni di tiga rumah terdampak itu akan dipindahkan ke tanah milik desa.

Sementara, penghuni dari lima rumah lain akan dipindah ke lokasi lahan baru.

"Tanah yang longsor itu ditukar guling dengan tanah desa. Sedangkan ada yang punya lahan sendiri di tempat lain. Tapi pembangunan bangunannya kami yang mengerjakan," katanya.

Ia meminta, setelah seluruh rumah direlokasi, Pemerintah Desa Grenggeng menanami lokasi longsor dengan tanaman keras.

Penghijauan ini penting untuk mengantisipasi agar tidak terjadi lagi longsor.

Terpisah, Peneliti Utama LIPI Chusni Ansori, menegaskan, tanah longsor di Desa Grenggeng bukan likuifaksi. Ia menyebut, peristiwa itu merupakan longsor biasa atau tanah bergerak.

Baca juga: DLH dan BPBD Jadi Klaster Baru Penyebaran Covid-19 di Kota Solo

Baca juga: Gerebek Tiga Warung Miras, Sat Sabhara Polresta Banyumas Amankan 130 Liter Tuak dan Ciu

Baca juga: Truk Pengangkut Genting Tabrak Median Jalan di Bergas Kabupaten Semarang, Kepala Truk Ringsek

Baca juga: Lagi, 1 Pejabat di Pemkab Banyumas Positif Covid-19 Diduga Tertular dari Suami

Ia menerangkan, likuifaksi biasanya disebabkan adanya guncangan, semisal gempa. Sedangkan pergeseran tanah di Desa Grenggeng ini dipicu hujan deras.

Sementara, jenis atau tipe longsorannya mendatar atau ke samping. Ini bisa dilihat dari pola di sekitar. (*)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved