Pilpres AS
Jelang Pemungutan Suara 3 November, Hasil Jajak Pendapat: Joe Biden Raih 51 Persen Suara dari Trump
Jajak pendapat Reuters/Ipsos, Joe Biden unggul 51 persen, sementara Donald Trump 43 persen suara.
"Awalnya, saya mendengar hal-hal yang negatif. Akhirnya saya cari tahu sendiri dan memutuskan memilihnya," tutur Sylvia.
Baca juga: Siklon Tropis Goni Bergerak Menjauhi Indonesia, BMKG Tetap Minta Warga Waspada Hujan Lebat
Baca juga: Liga Inggris Malam Ini: Ajang Pembuktian Arsenal Bisa Taklukkan Manchester United di Old Trafford
Baca juga: Ingin Rasakan Makan Malam di Kabin Bianglala? Coba Saja Restoran Costes di Budapest Eye Ini
Baca juga: 37.605 Alat Peraga Kampanye di 21 Kabupaten/Kota di Jateng Ditertibkan
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan, siapapun yang memenangi Pilpres AS tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia.
"Siapapun yang menang, Indonesia kan harus kerja sama. Indonesia harus netral. Ini kan kedaulatan dan hak dari rakyat AS," tutur Hikmahanto.
Melalui akun youtube yang diunggah Kamis (29/10/2020) lalu, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono menilai, situasi Pilpres AS saat ini bisa disebut sangat panas dan lebih dari sebelum-sebelumnya.
Hal itu terlihat dari perang kata antara Trump dan Biden dalam debat.
Apa yang terjadi saat ini, ujar SBY, juga jarang terjadi dalam sejarah Pilpres AS.
"Saya kira, sebagian rakyat Amerika, malu melihatnya," kata SBY.
SBY melanjutkan, ada pendapat yang menyebut bagi Indonesia, Trump adalah yang terbaik. Alasanya, Trump dari Partai Republik sehingga tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.
Tidak akan ribut soal HAM, demokrasi dan juga perubahan iklim.
"Pandangan ini relatif sama dengan kalangan lain di negeri kita. Artinya, juga menjagokan Trump dan berharap dia menang lagi. Cuma alasannya sedikit berbeda. Kata mereka, kalau Trump yang menang, hubungan ekonomi dan bisnis akan lebih hidup. Lebih meningkat. Argumentasinya, Partai Republik di AS lebih pro bisnis. Termasuk punya keberpihakan kepada perusahaan multi nasional," beber SBY.
SBY mendengar, sejumlah tokoh di Pemerintahan Presiden Jokowi juga punya pandangan dan harapan agar Trump menang.
Lebih lanjut, SBY mengungkapkan, dua bulan lalu ia diwawancarai oleh kalangan pers.
Di tengah wawancara, wartawan menyinggung soal isu Pilpres AS. SBY mengatakan, kelompok ini justru mendukung Biden untuk menang dalam Pilpres.
"Alasannya, pertama mereka tidak suka dengan kepribadian dan gaya Trump. Yang kedua, apa yang diharap Indonesia dari Trump yang terkenal sangat egois dan ultra nasionalistik. Dia hanya mengutamakan Amerika dan tidak peduli dengan negara lain, bangsa lain," ujar SBY.
Baca juga: Hadapi Spezia Malam Ini, Pelatih Juventus Andrea Pirlo Belum Pasti Turunkan Duet Ronaldo-Dybala
Baca juga: Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,0 Guncang Saumlaki Maluku, Warga Panik dan Sempat Takut Masuk Rumah
Baca juga: Kasus Covid-19 Nakes di Kabupaten Pekalongan Bertambah, Kali Ini 2 Orang dari Puskesmas Kajen 1
Baca juga: UMP 2021 Yogya Dipastikan Naik 3,54 Persen, Buruh Malah Kecewa. Ini Alasan Mereka
Atas dua pendapat itu, SBY menyatakan ia menghormati semua pendapat tersebut.