Berita Pekalongan
Suka Panjat Dinding Rumah Tanpa Peralatan, Bocah asal Siwalan Pekalongan Ini Digadang Jadi Atlet
Bocah ini bernama Nafisa Adellia (8), warga Dukuh Slumbu, Desa Tengeng Wetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
TRIBUNBANYUMAS.COM, KAJEN - Ada saja tingkah anak-anak yang buat kita geleng-geleng kepala. Di Kabupaten Pekalongan, ada bocah perempuan dengan mudahnya memanjat dinding dengan tangan kosong, bak tokoh superhero Spiderman.
Bocah ini bernama Nafisa Adellia (8), warga Dukuh Slumbu, Desa Tengeng Wetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Saat Tribunbanyumas.com, datang ke rumahnya, Selasa (8/9/2020) sore, Nafisa terlihat bermain di belakang rumah.
Secara fisik, bocah berambut panjang ini juga tak menunjukkan tanda-tanda berbeda.
Namun, tak berapa lama, tanpa persiapan dan memasang kuda-kuda, tiba-tiba mulai menapaki dinding rumah berupa batu bata ekspose setiinggi sekitar 3 meter.
• Kini, Bayar Belanjaan di Pasar Manis Purwokerto Bisa Nontunai, Cukup Scan Pakai QRIS
• Berikut Identitas 6 Korban Tewas dan Selamat Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang di Boyolali
• 1 Korban Selamat Dalam Kecelakaan di Tol Solo-Semarang di Boyolali Masih Berumur 4 Tahun
Hanya dalam beberapa detik, Nafisa sudah berada di sisi atas dinding. Lalu, dia melompat ke bumbungan atap rumah dan bergelantungan.
Aksi Nafisa itu dilakukan tanpa mengunakan alat bantu atau bahkan pengaman. Dia mengandalkan kekuatan tangan dan kaki.
Nafisa mengaku tak merasakan sakit saat memanjat menggunakan tangan kosong. "Dulu, waktu kecil, belum bisa naik. Sekarang, umur 8 tahun, sudah bisa naik tembok," kata Nafisa.
Nafisa mengungkapkan, selama memanjat dinding ia tidak pernah capek.
"Suka panjatan, soale enak. Tidak capek dan tidak takut jatuh," ungkap Nafisa.
Ia menceritakan, saat memanjat tembok dirinya kerap dimarahin sama orang tuanya. "Suka di marahin Mamak, kalau naik-naik tembok," imbuhnya.
• 5 Instruksi Kapolri Untuk Cegah Klaster Pilkada
• Siapkan Payung, Hujan Diperkirakan Turun di Banjarnegara dan Purbalingga Malam Ini
• 1,77 Juta Data Tak Penuhi Kriteria Penerima BLT Pekerja, BP Jamsostek Kembalikan ke Perusahaan
Meski suka memanjat tembok, Nafisa memiliki segudang cita-cita yang tak terkait dengan aksi memanjatnya.
"Cita-cita ingin jadi polwan agar bisa nangkap penjahat. Atau, menjadi koki agar bisa memasak masakan yang enak. Jadi penari balet juga pengin," tambahnya.
Aksi yang dilakukan Nafisa ini kerap membuat waswas orang tuanya. Seperti yang dikatakan Rumiyati (45), ibu Nafisa, dia kerap melarang anaknya memanjat tembok rumah lantaran khawatir jatuh.
Namun, semakin dilarang, Nafisa malah semakin nekat memanjat tembok.
"Namanya orangtua, anak yang masih kecil terus naik-naik ke tembok dan bergelantungan, pastikan punya rasa takut terjatuh. Tapi kalau dilarang, malah naik terus, Mas," katanya.
Menurut Rumiyati, Nafisa diakuinya termasuk anak yang aktif dan suka aktifitas fisik.
"Anaknya kerap memanjat sejak usianya masih balita. Masih kecil, umur dua tahunan kerap naik-naik lemari dan pagar. Saya ketakutan tapi ya akhirnya sudah terbiasa," ujarnya.
Selain memanjat dinding dan lemari, anaknya juga kerap memanjat pohon.
"Kalau dinding rumah, baru sebulan ini. Sebelumnya, pohon krasem yang ada di belakang rumah sering sekali di pajat anak saya," imbuhnya.
• Kemenkes Mulai Uji Klinis Terapi Plasma Konvalesen Pasien Covid-19, 4 Rumah Sakit Dilibatkan
• Kalah Lagi, Timnas U-19 Ditekuk Kroasia 1-7. Ini Penjelasan Pelatih Shin Tae-yong
Rumiyati mengungkapkan, anaknya dikenal sebagai anak yang tergolong tomboi.
"Kalau main di rumah, anaknya sama anak laki-laki. Tapi, kalau di sekolah, hanya pendiam," ungkapnya.
Terpisah, Kades Tengeng Wetan Rochmat mengatakan, mengenai warga yang mempunyai bakat dan unik.
Pihak desa berniat membina agar minat dan bakatnya bisa disalurkan pada olahraga wall climbing.
"Nafisa dipandang sebagai bibit calon atlet wall climbing atau panjat dinding potensial dari Kabupaten Pekalongan. Oleh karena itu, kami akan terus memantau perkembangannya," katanya.
Pihaknya juga berpesan kepada orangtua Nafisa untuk memperhatikan perilaku bocah tersebut.
"Saya berpesan kepada orangtua agar memantau terus. Kalaupun ini sudah menjadi kebiasaan, minimal dilakukan dengan pendampingan orang dewasa dan profesional," pesannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/nafisa-adellia-bocah-asal-siwalan-pekalongan-suka-panjat-dinding-rumah.jpg)