Kamis, 9 April 2026

1 WNI Jadi Korban Ledakan di Lebanon

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, mengatakan, ada satu orang warga negara Indonesia yang luka namun kondisi sudah stabil.

Editor: rika irawati
tangkap layar video netizen
Ledakan di Beirut Lebanon 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BEIRUT - Ledakan dahsyat mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, hari Selasa (4/8/2020) waktu setempat. Kejadian ini menyebabkan paling tidak 78 orang meninggal dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, mengatakan, ada satu orang warga negara Indonesia yang luka namun kondisi sudah stabil.

"Ada satu WNI yang mengalami luka-luka (inisial NNE). Staf KBRI sudah berkomunikasi melalui video call dengan yang bersangkutan. Kondisinya stabil, bisa bicara dan berjalan. Yang bersangkutan sudah diobati oleh dokter rumah sakit dan sudah kembali ke apartmennya di Beirut," kata Faizasyah.

Korban luka dari Indonesia adalah pekerja migran, tambahnya. Di Lebanon, terdapat total 1.447 WNI, 213 di antaranya masyarakat dan keluarga besar KBRI, serta 1,234 TNI anggota kontingen Garuda.

Sementara itu, Hamzah Assuudy Lubis selaku Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lebanon, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa "ledakan awalnya kami rasakan seperti gempa kurang lebih 10 detik".

Dia dan beberapa teman sesama mahasiswa tinggal di daerah Barbir, Beirut, yang berjarak kurang lebih empat kilometer dari lokasi kejadian.

Ledakan di Beirut Tewaskan 73 Orang, Terdengar Hingga 240 Km

Secara terpisah, mahasiswa Indonesia lain bernama Fitrah Alif melalui akun Twitternya menulis, "65 mahasiswa terpantau aman lagi pada rebahan di kasur asrama masing-masing".

"Saya lagi di asrama di kota Tripoli, sekitar 80 kilometer dari Beirut dan tidak terasa guncangan. Namun, teman yang tinggalnya 8 km dari titik ledak, dia merasa seperti gempa, terasa getarannya," kata Fitrah kepada BBC Indonesia.

Tersimpan di gudang 2.750 ton amonium nitrat
Para pejabat menuding adanya bahan peledak yang disimpan di gudang selama enam tahun.

Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan adanya 2.750 ton amonium nitrat-bahan untuk pupuk dan peledak-disimpan di gudang "tidak dapat diterima".

"Saya tidak akan diam sampai kami menemukan orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, sehingga kami dapat meminta pertanggung jawaban dan menerapkan hukuman paling berat," kata perdana menteri dalam akun Twitter resminya.

"Tidak dapat diterima ada 2.750 amonium nitrat disimpan di gudang selama enam tahun, tanpa adanya langkah pengamanan sehingga membahayakan keselamatan warga".

Apa itu amonium nitrat?
Amonium nitrat punya banyak kegunaan namun dua manfaat yang paling umum adalah sebagai pupuk pertanian dan peledak.

Zat tersebut sangat mudah meledak ketika bersentuhan dengan api—dan ketika meledak, amonium nitrat bisa melepaskan sejumlah gas beracun, termasuk nitrogen oksida dan gas amonia.

Asap membubung setelah ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.
Asap membubung setelah ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020. (Karim Sokhn/Instagram/Ksokhn + Thebikekitchenbeirut/via REUTERS)

Karena mudah meledak, ada sejumlah aturan ketat dalam menyimpan amonium nitrat secara aman.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved