Berita Kesehatan
CEK FAKTA Klaim Hoaks Vaksin Covid-19 Bisa Ubah DNA
"Vaksin Covid-19 didesain untuk mengubah kita menjadi organisme dengan genetik yang dimodifikasi," katanya.
Ilmuwan tersebut kemudian mengirimkan informasi sanggahannya ke grup ini dan berkata: "Mereka sekarang mendapat informasi yang lebih baik, yang saya sangat senangi, karena mereka semua sebelumnya sangat memercayai video itu".
Klaim tentang laju uji coba vaksin
Ketika hasil awal studi vaksin virus corona Oxford diterbitkan pada Senin (20/07), topik tersebut memicu banyak perdebatan di grup Facebook yang berfokus pada virus corona.
Beberapa pengguna Facebook mengunggah komentar yang mengatakan mereka tidak ingin vaksin karena mereka merasa akan digunakan sebagai "kelinci percobaan" dan bahwa itu telah "buru-buru diproduksi dengan kecepatan penuh".
Mereka juga khawatir tentang keamanan mengingat laju perkembangan yang dipercepat.
Namun, Profesor Andrew Pollard, kepala peneliti vaksin Oxford, mengatakan kepada BBC bahwa proses keselamatan yang ketat yang termasuk dalam semua uji klinis telah dilakukan.
Ini termasuk laporan keselamatan kepada regulator di negara-negara yang ikut serta.
Percobaan telah begitu cepat dalam menyimpulkan dua fase pertama karena materi-materi yang disediakan oleh proyek sebelumnya pada vaksin virus corona di Oxford, percepatan proses administrasi dan pendanaan, dan minat besar dalam uji coba yang berarti tidak ada waktu yang dihabiskan untuk mencari sukarelawan.
Saat uji coba beralih ke fase ketiga, dengan ribuan sukarelawan yang ikut serta, semua peserta akan dimonitor untuk efek samping.
Tidak ada efek samping berbahaya dari penggunaan vaksin dalam dua fase pertama, meskipun 16-18% dari peserta uji coba yang diberikan vaksin melaporkan mengalami demam.
Para peneliti mengatakan, efek samping dapat diobati menggunakan parasetamol.
Ketika percobaan vaksin Oxford pertama kali dimulai, ada klaim bahwa relawan pertama telah meninggal.
Cerita itu dengan cepat dibantah oleh pemeriksa fakta dan koresponden medis BBC, Fergus Walsh, yang melakukan wawancara dengan sukarelawan.
Klaim tentang vaksin dan flu Spanyol
Sebuah meme yang beredar di media sosial mengklaim bahwa vaksin bertanggung jawab atas 50 juta kematian selama pandemi flu Spanyol pada 1918.
Tapi ini sepenuhnya salah.
Pertama, sebagaimana dinyatakan oleh Pusat Pengendalian Penyakit AS, tidak ada vaksin pada saat itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-corona.jpg)