Teror Virus Corona
Kabar Baik! BPPT Produksi Alat Rapid Test dalam Negeri, Kapasitas 50.000 Per Bulan
Kabar Baik! BPPT Produksi Alat Rapid Test dalam Negeri, Kapasitas 50.000 Per Bulan
Saat ini BPPT masih menunggu beberapa komponen tambahan untuk memproduksi rapid test. Kalau ini sudah tiba pekan ini, maka pekan depan sudah bisa produksi (alat) rapid test antibodi sebanyak 50.000 per bulan."
TRIBUNBANYUMAS.COM - Alat rapid test virus corona (Covid-19) kini bisa diproduksi dalam negeri, tak lagi harus impor dari luar negeri.
Hal ini seiring kabar bahwa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai pekan depan sudah bisa memproduksi alat rapid test lokal secara massal.
Dalam satu bulan, produksi alat rapid test ditargetkan bisa mencapai 50.000.
Hal tersebut disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam konferensi pers usai rapat kabinet terbatas, Senin (4/5).
Doni menyebut, saat ini BPPT masih menunggu beberapa komponen tambahan untuk memproduksi rapid test.
• BREAKING NEWS: Inna Lillahi, Godfather of Broken Heart Didi Kempot Meninggal Dunia
• Didi Kempot Meninggal 15 Menit Setelah Tiba di RS Kasih Ibu Solo
• Kabar Baik! 4 PDP Corona Asal Kroya dan Maos Dinyatakan Negatif Covid-19
• UPDATE Virus Corona Cilacap, Senin 4 Mei - 20 Kasus Positif Covid-19, 17 PDP Meninggal Dunia
"Kalau ini sudah tiba pekan ini, maka pekan depan sudah bisa produksi (alat) rapid test antibodi sebanyak 50.000 per bulan," kata Doni.
Doni mengaku telah membicarakan hal ini dengan Kepala BPPT Hammam Riza.
Saat ini, BPPT masih menunggu sejumlah komponen tambahan produksi alat tersebut yang merupakan barang impor.
"Beliau masih menunggu 2 komponen dari 10 komponen yang sebagian impor. Sudah ada 8 komponen, tinggal 2 komponen," katanya.
Rapid test merupakan salah satu jenis pemeriksaan untuk mendeteksi apakah seseorang memiliki antibodi terhadap Covid-19 atau tidak.
Di beberapa wilayah, rapid test telah dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan seseorang terpapar virus corona.
Penggunaan rapid test umumnya dilakukan terhadap mereka yang memiliki kontak erat dengan orang yang telah dinyatakan positif Covid-19.
Meski demikian, alat ini tidak sepenuhnya valid ketika digunakan untuk melakukan tes karena dapat memunculkan negatif palsu ataupun positif palsu karena beberapa alasan.
Seseorang yang reaktif rapid test diharuskan melakukan uji swab (pengambilan sampel lendir tenggorokan) untuk diteliti di laboratorium dengan metode polymerase chain reaction (PCR).
Uji swab menjadi langkah verifikasi guna memastikan seseorang positif atau negatif Covid-19.
Pedoman Uji Coba Vaksin
Sementara itu, sejumlah ilmuwan mengklaim telah menemukan vaksin virus corona.
Mereaksi hal tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) berencana mengeluarkan pedoman tentang penggunaan uji coba vaksin tersebut pada manusia.
Rencananya, pedoman tersebut akan dikeluarkan pada bulan ini, seperti dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Senin (4/5).
Juru bicara WHO, Margaret Harris, mengatakan badan kesehatan PBB berencana mengeluarkan pedoman tentang penggunaan manusia dalam uji coba vaksin dalam beberapa minggu ke depan.
Tekanan terhadap upaya pengembangan vaksin untuk penyakit Covid-19 ini semakin meningkat.
Oleh karenanya, beberapa ilmuwan dan aktivis mengadvokasi penggunaan human challenge trials (HCT).
Para sukarelawan berusia muda dalam uji coba ini, dengan sengaja diinfeksi virus untuk menguji kemanjuran kandidat vaksin yang dikembangkan.
Uji coba ini diklaim akan mempercepat pengembangan vaksin virus corona, namun implikasi etis dan medis dari penggunaan metode ini masih dikhawatirkan.
Para ilmuwan telah menggunakan uji coba tantangan manusia ini di masa lalu, terkait influenza, malaria, demam berdarah, kolera dan demam tifoid.
• Didi Kempot Meninggal karena Serangan Jantung, akan Dimakamkan di Ngawi
• Wali Kota Solo Rudy Terkejut Didi Kempot Meninggal Dunia: Kemarin Sore Masih Telponan Sama Saya
• Cerita Pemilik Saham dan Dirut Perusahaan Lolos Kartu Prakerja: Program Tak Jelas, Tak Tepat Sasaran
• Viral Video Bocah Perempuan Menangis di Depan Gerbang Sekolah Malam Hari: Selma Kangen Sekolah
Nasihat resmi yang dikeluarkan WHO pada tahun 2016 lalu, menyatakan jenis percobaan ini hanya dapat dipertimbangkan jika tidak ada terapi efektif lain yang tersedia untuk mengobati penyakit dan mencegah kematian.
Namun, pedoman etika yang ada untuk penelitian terkait dengan manusia yang dikeluarkan oleh Council for International Organisations of Medical Sciences dan WHO pada 2016 lalu juga menghalangi HCT dari berbagai penyakit dengan tingkat morbiditas tinggi, seperti Ebola dan antraks.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, Peter Smith, profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, menilai semestinya pembatasan seperti itu tidak berlaku, terutama jika hanya sukarelawan muda yang sehat yang direkrut.
"Ebola sangat mematikan dan sampai saat ini tidak ada perawatan yang efektif, meski ada perawatan untuk mengurangi angka kematian yang tinggi, tetapi tidak menghilangkannya," jelas Smith.
Kendati demikian, Covid-19 memiliki risiko penyakit serius dan kematian yang sangat kecil pada orang dewasa muda.
Sehingga, kata dia, risiko ini sangat berbeda jika dilakukan pengujian untuk kasus Ebola. (kpc/tribun network)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/rapid-test-mulai-digelar-hari-ini-simak-kriteria-prioritasnya.jpg)