Teror Virus Corona

Mengapa Italia Jadi Negara Tertinggi Kasus Positif Corona di Benua Eropa? Berikut Penjelasannya

Mengapa Italia Jadi Negara Tertinggi Kasus Positif Corona di Benua Eropa? Berikut Penjelasannya

ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMA
Landing Craft Utility (LCU) KRI dr Soeharso mengangkut 188 WNI ABK World Dream untuk diobservasi di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (28/2/2020). Selanjutnya, para WNI itu akan melanjutkan 14 hari masa observasi usai dipulangkan dari Hong Kong akibat mewabahnya virus corona (Covid-19). 

Mengapa Italia Jadi Negara Tertinggi Kasus Positif Corona di Benua Eropa? Berikut Penjelasannya

TRIBUNBANYUMAS.COM - Italia menjadi negara di benua Eropa yang paling terdampak dari adanya wabah virus corona. 

Dilaporkan, sejauh ini lebih dari 5.000 kasus virus corona terkonfirmasi positif di Italia.

Di mana 233 korban di antaranya meninggal dunia, dan 500 lebih penderita menjalani perawatan intensif.

Padahakl, pada akhir pekan lalu (1/3/2020) temuan virus corona di Italia masih 1.228 kasus yang dikonfirmasi.

Anak Perempuannya Kerap Pakai Celana Pendek, Suami Pukuli Istri dengan Galon hingga Tewas

Khawatir Virus Corona, Dua Perempuan Berkelahi Rebutan Tisu Toilet di Swalayan Berujung Pengadilan

Kisah Pilu Afifah Derita Hemangioma, Benjolan Tutup Mata Kanan Berharap Mukjizat di Ultah Pertama

Puting Beliung Terjang SPBU hingga Seorang Operator Terluka, PT Pertamina: Kami Tutup Sementara

Kenapa kasus virus corona di Italia tertinggi di Eropa?

Beberapa profesor memberikan pendapatnya tentang merebaknya Covid-19 di Italia.

Massimo Galli, profesor penyakit menular Universitas Milan dan kepala departemen penyakit menular Rumah Sakit Sacco menyampaikan buah pikirannya.

Menurutnya, dari data epidemiologis ia mengatakan bahwa virus corona sudah beredar di Italia pada akhir Januari namun belum terdeteksi.

Jelang Parma vs SPAL, Menpora Italia: Darurat Virus Corona, Saya Setuju Setop Kompetisi Sepak Bola

Virus itu kemudian menyebar sampai kemudian infeksi gelombang pertama menjadi perhatian National Health Service. "Namun itu situasi yang sangat kacau dan bisa terjadi di bagian lain dunia," kata Galli dikutip dari Corriere.

Sementara Paolo Bonanni, Profesor Ilmu Kebersihan di Universitas Florence menyebut, kedatangan infeksi tidak diawasi ketat.

Awalnya Italia hanya mengaktifkan pengecekan dari mereka ayng datang dari China.

Sejak pertengahan Januari Bonanni mengatakan telah melihat di daerah Lodi, kota di regione Lombardia kasus pneumonia yang kemungkinan disebabkan virus baru.

VIDEO Puting Beliung Terjang SPBU, Seorang Karyawan Terluka hingga Hentikan Pelayanan ke Pelanggan

"Saya tidak mengecualikan kehadiran subjek di mana mikroorganisme bereplikasi dalam jumlah yang dapat menginfeksi banyak orang dalam waktu singkat," katanya.

Fabrizio Pregliasco, ahli virus dari Universitas Milan mengatakan, kasus virus corona di Italia seperti gunung es dan hanya terlihat ujungnya saat kasus pertama dikonfirmasi.

Selain itu, ia menyebut bahwa epidemi tersebut bertepatan dengan epidemi flu yang ditandai terutama oleh virus H1N1 dan N3N2, yang memberikan efek pernapasan berat.

Anak Tumbuh Menjadi Pribadi Pemarah dan Kasar? Mungkin Orangtua Gagal Memahami Emosional Mereka

Polisi Libatkan Psikiater Tes Kejiwan Gadis 15 Tahun yang Bunuh Temannya, Mengaku Tak Menyesal

Bincang dengan Menaker Ida Fauziyah: Hampir Tiap Hari Telekonferensi Pantau Dampak Corona (2-habis)

RESMI! Pemohon SIM di Jateng Dikenakan Biaya Tambahan Tes Psikologi Rp50.000. Berapa Totalnya?

"Saya percaya bahwa di China pada awalnya ada kesulitan terkait dengan aspek ini. Mereka mendapat manfaat dari tindakan penahanan seperti yang telah kami lakukan," tuturnya.

Direktur Medis Institut Ortopedi Galeazzi itu juga menyebut, jika tindakan karantina itu efektif, negara lain dapat mengadopsinya lebih awal dari yang telah dilakukan Italia untuk menekan penyebaran. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Mengapa Italia Memiliki Lebih Banyak Kasus Corona daripada Negara Eropa Lainnya?

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved