Sabtu, 18 April 2026

Berita Wonosobo

Mengenal Bundengan Alat Musik Tradisional di Wonosobo yang Nyaris Punah

Masyarakat mungkin belum familiar dengan kesenian bundengan, bahkan bagi sebagian warga Wonosobo sendiri

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribunbanyumas.com/Khoirul Muzaki
Siswa SMPN 2 Selomerto Wonosobo memainkan alat musik bundengan 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Kabupaten Wonosobo bukan hanya terkenal dengan daya tarik wisatanya yang menawan, semisal dataran tinggi Dieng.

Daerah berhawa sejuk itu juga kaya akan kebudayaan dan kesenian lokal.

Masyarakat mungkin belum familiar dengan kesenian bundengan, bahkan bagi sebagian warga Wonosobo sendiri.

Alat musik tradisional itu masih kalah populer dengan instrumen lain semisal gamelan yang biasa dipentaskan dalam berbagai acara seni maupun hiburan.

Alat musik ini bahkan nyaris punah karena tidak banyak yang mau memainkannya.

Beruntung, di tangan beberapa seniman di Wonosobo, kesenian itu mulai bangkit kembali.

Dari bentuknya, alat musik ini terbilang unik.

Alat ini dibuat dengan kerangka berbahan bambu, dan dilapisi pelepah batang bambu atau clumpring.

Sekilas alat musik itu lebih mirip tudung atau penutup kepala bagi petani.

Anggapan demikian tidak salah, karena memang alat itu mulanya difungsikan sebagai tudung.

Warga lokal menyebutnya kowangan. Petani biasa mengenakannya untuk melindungi kepala dari terik dan hujan.

Tetapi bedanya dengan caping petani pada umumnya, tudung ini bisa difungsikan juga sebagai alat musik. Di sela aktivitas bertani, mereka berdendang sembari memainkan bundengan.

"Tapi dulu masih pakai ijuk, dipasang di kowangan untuk menghasilkan musik,"kata Mulyani, seniman bundengan dari Kabupaten Wonosobo

Kini, mungkin sudah jarang petani yang mengenakan kowangan ketika beraktivitas di ladang.

Alat itu pun sudah sulit ditemukan di pasaran. Pengrajinnya mulai jarang.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved