Berita Viral
Heboh Buaya Berkalung Ban, Pernah Panggil Panji Petualang hingga Gelar Sayembara untuk Melepasnya
Heboh Buaya Berkalung Ban, Pernah Panggil Panji Petualang hingga Gelar Sayembara untuk Melepasnya
TRIBUNBANYUMAS.COM - Heboh Buaya Berkalung Ban, Pernah Panggil Panji Petualang hingga Gelar Sayembara untuk Melepasnya
Sejak kemunculannya pada 2016, buaya berkalung ban di Palu menyita perhatian warga.
Sejak 2016, Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah telah mencoba untuk menyelamatkan dan melepaskan ban dari leher buaya tersebut.
Beberapa usaha di antaranya dengan jala yang diberi pemberat dan menggunakan kerangkeng.
Namun, upaya itu tak berhasil.
Bahkan, Panji petualang pernah mencoba menangkap dan melepaskan kalung ban dari buaya tersebut.
Sayang, upaya itu juga gagal dilakukan.
Pada 2020 ini, BKSDA kemudian mengeluarkan sayembara untuk melepaskan ban di leher buaya.
"Makanya sayembara itu kami buat. Barang siapa yang mampu mengeluarkan ban dari leher buaya itu akan mendapat hadiah yang setimpal.
Tapi tidak ada DP, cash. Begitu keluar langsung bayar dengan mendapatkan penghargaan dari BKSDA," kata Kepala BKSDA Hasmuni Hasmar kepada wartawan, belum lama ini.
Hasmuni tak menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk sayembara itu.
Namun, sayembara itu akhirnya dihentikan karena sepi peminat.
Setelah upaya sayembara gagal, BKSDA memutuskan membentuk satgas yang di dalamnya terdiri dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah serta tim dari KKH Jakarta.
Satgas ini dibentuk untuk melepaskan ban yang ada di leher buaya.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah Haruna sekaligus Ketua Satgas mengatakan, upaya melepaskan ban di leher buaya tidak akan menggunakan tembakan bius.
"Kami menggunakan harpun (sejenis tombak).
Cuma kendala ombak besar dan buayanya timbul tenggelam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, sehingga menyulitkan teman-teman menggunakan alat itu," kata Haruna.
Harpun yang digunakan BKSDA dibuat lebih aman dan tidak mematikan.
Alat itu lebih aman ketimbang tembakan bius.
Bius lebih berisiko karena ketika terkena tembakan bius, buaya akan kaget dan masuk ke dalam air. "
Kalau sudah masuk ke dalam air, tim kita akan mengalami kesulitan untuk mengambil buaya berkalung ban, karena banyak juga buaya lain di sungai Palu itu.
Dan dipastikan buaya berkalung ban bisa mati," kata Rino, salah satu tim Satgas buaya berkalung ban, Jumat (7/2/2020).
Populasi
Pasca-bencana alam, BKSDA belum mendata kembali soal populasi buaya yang ada di sungai Palu.
Namun, sebelum gempa pada September 2018, tercatat buaya di sungai Palu ada 37 ekor.
Saat ini diperkirakan jumlahnya semakin bertambah.
Hingga kini, upaya penyelamatan buaya berkalung ban masih terus dilakukan.
Tim mengaku kesulitan jika posisi buaya berada di muara karena arus yang cukup kencang.
"Kita mencoba menggiring buaya ke posisi jauh dari muara. Itu akan memudahkan kita bekerja," ujar Haruna.
Buaya Terjerat Ban Bekas Muncul Lagi Setelah 3 Tahun, Begini Kondisinya
Seekor buaya liar dengan kondisi leher terjerat ban bekas kembali muncul di sekitar sungai di bawah Jembatan II, Kota Palu, Rabu (15/1/2020).
Masyarakat menduga, buaya tersebut sama dengan buaya yang pernah sempat muncul pada tahun 2016 lalu.
Tampaknya, buaya tersebut masih belum bisa lepas dari ban bekas yang melilit lehernya.
Salah satu warga sempat berseloroh, ukuran buaya kali ini tampak bertambah besar dan panjang.
"Saya pas lewat jembatan ini lihat orang ramai-ramai. Saya kira apa. Saya berhenti dan ternyata ada buaya berkalung ban muncul lagi," kata Yulius (45), salah satu warga yang ikut menonton kemunculan buaya tersebut.
Seperti diketahui, pada tahun 2016, warga di sekitar Sungai Palu mengaku telah melihat buaya berkalung ban bekas.
"Ini air sedang naik, jadi tidak terlalu nampak buayanya. Itu..itu...lihat mbak, kelihatan kepalanya yang ada hitamnya, sudah itu bannya. Biasa dia muncul untuk berjemur. Bagus kalau mau lihat pas air sungai surut," kata Imel (21), salah satu warga yang saat itu datang untuk melihat, Rabu (21/9/2016).
Setelah itu, beredar sejumlah cerita di masyarakat bahwa ban tersebut masuk di leher buaya karena tidak sengaja.
Lalu ada pula yang mengatakan jika ban itu sengaja dipasangkan di leher buaya tersebut.
“Saya dengar buaya ini dipancing, tetapi kemudian terlepas,” kata Miswati (40), warga lainnya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng, Syihabuddin mengatakan, setelah muncul kabar tersebut kawan-kawan pecinta reptil lalu berusaha melakukan penyelamatan, namun gagal.
"Makanya tadi saya suruh berhenti. Sebentar sore ini, kami akan turun lagi dan mencoba menangkap buaya tersebut dengan menggunakan jaring. Jika tidak berhasil, kami coba lagi dengan menggunakan kerangkeng yang kami beri umpan, kemudian kami lepas lagi,” ujarnya, Rabu (21/9/2016).
Sementara itu, pada tahun 2018, upaya penyelamatan buaya juga dilakukan oleh Panji si Petualang, seorang bintang di salah satu program televisi nasional.
Saat itu, Panji dan timnya menyusuri Sungai Palu bersama sejumlah personel Polisi Air dan Udara (Polairud), Minggu (21/1/2108).
Namun, sayangnya usaha tersebut juga belum membuahkan hasil.
Buaya yang tadinya berjemur di onggokan pasir di tengah Sungai Palu tiba-tiba masuk ke sungai.
“Proses pencarian pada malam hari itu tidak menguntungkan posisi kita. Perhitungan kita untuk menangkap buaya ini bukan malam hari. Karena pada malam hari waktunya dia untuk cari makan. Nah, kenapa dia berjemur, karena buaya itu termasuk hewan berdarah dingin. Dia butuh panas untuk mencerna nutrisi dalam tubuhnya supaya jadi protein buat tenaga untuk buaya ini bergerak mencari mangsa di malam hari,” beber Panji, Minggu (21/1/2018).
Imbauan ahli dari LIPI Menurut ahli dari Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, butuh usaha bersama untuk menyelamatkan buaya yang kondisinya mirip dengan beberapa tahun lalu.
Salah satu cara adalah dengan mengamati titik-titik lokasi kemunculan buaya tersebut.
Setelah itu, penyelamatan akan bisa dilakukan agar mencegah konflik dengan manusia.
"Alangkah bijaknya, warga yang kebetulan melihat keberadaan buaya tersebut segera melapor ke pihak terkait," kata Amir saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (16/1/2020). (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Sulitnya Lepaskan Ban di Leher Buaya di Palu, Pernah Panggil Panji Petualang hingga Gelar Sayembara