Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Hari Ibu, Momentum Perempuan Indonesia 'Bersuara'

Era Fir'aun berkuasa, Masyithah, sosok pembantu istana pemberani, tidak gentar menyuarakan kebenaran

Tayang:
Editor: Rustam Aji
dok. pribadi
RINI RAHAYU - PW Dewan Masjid Provinsi Jawa Tengah dan PP RRI Semarang. 

Ringkasan Berita:
  • Hari ini, 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu
  • Sesuai motivasi tergeraknya konggres kaum wanita Indonesia di Yogyakarta 22 hingga 25 Desember 1928 yang melatarbelakangi ditetapkannya peringatan hari Ibu Nasional.
  • Sebuah gerakan perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, kesetaraan, pendidikan, serta perbaikan sosial.
  • Momentum penghargaan sebagai kaum perempuan yang mempunyai peran penting dan peran ganda dalam kehidupan berumah tangga, masyarakat, bangsa dan bernegara.

TRIBUNBANYUMAS.COM - 

Ibu ..
Bersuara ..

Meski bersuara hak semua orang, namun fenomenanya tidak semua bisa berbicara, mengemukakan gagasannya, atau pun bersuara secara terbuka.

Apa alasannya? Apa saja kebebasan berpendapat pada masa media sosial? Mengapa harus berani meski menghadapi ketidakadilan?

Apakah permasalahan ini juga dialami kaum perempuan yang hari ini merayakan Hari Ibu 22 Desember 2025.

Beberapa alasan bermunculan ketika seseorang membatasi orang lain bersuara diantaranya : tidak level, suara dipolitisasi, tersaingi, suara tidak akan didengar karena dianggap gila, stress, termasuk yang dialami beberapa nabi, menganggap diri sendiri lebih tahu.

UUD 1945: pasal 28 E ayat (3) menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Pasal 28 F juga menjamin hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi.

Baca juga: Saat Libur Nataru, Pemkot Semarang Sebut Pastikan Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Menjadi pilar demokrasi dengan memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi dan mengemukakan pandangan terhadap isu yang berkembang.

Hari ini 22 Desember Hari Ibu yang kita kenal. Meningkatkan persatuan dan kesatuan hendaknya kita junjung tinggi. Sesuai motivasi tergeraknya konggres kaum wanita Indonesia di Yogyakarta 22 hingga 25 Desember 1928 yang melatarbelakangi ditetapkannya peringatan hari Ibu Nasional.

Kongres yang memayungi berbagai organisasi wanita seperti Kowani, Dharma Wanita, Darma Pertiwi, HWK,  IWAPI, GOW, Muslimat, A'isyiyah, yg menjamur kala itu.

Sebuah gerakan perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, kesetaraan, pendidikan, serta perbaikan sosial.

Momentum penghargaan sebagai kaum perempuan yang mempunyai peran penting dan peran ganda dalam kehidupan berumah tangga, masyarakat, bangsa dan bernegara.

Terbukti tidak sedikit kaum perempuan dalam sejarah yang telah mendapatkan gelar pahlawan, lbu RA Kartini, salah satunya dengan bersuara mengemukakan gagasan-gagasannya lewat tulisan hingga berhasil dibukukan dengan judul "Habis gelap terbitlah terang".

Baca juga: 117 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Jawa Tengah, Pelaku Ada Kyai hingga Orang Terdekat

Sepatutnya para ibu banyak bersyukur. 
Ketika menengok ke belakang.

Era Fir'aun berkuasa, Masyithah, sosok pembantu istana pemberani, tidak gentar menyuarakan kebenaran dengan menyatakan bahwa Allah SWT adalah Rabb  satu-satunya. Akhir  perjuangan Masyithah  berbuah manis Rasulullah SAW sudah mencium aroma wangi di Surga.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved