Orator Perempuan PMII Ejek Polisi Bersenjata Takut Api Ban Bekas
Mahasiswa PMII gelar demo dan bakar ban di depan Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu (17/6/2026). Aksi bubar damai meski diwarnai asap.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ringkasan Berita:
- Ratusan mahasiswa PMII Semarang Raya menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu (17/6/2026) petang.
- Massa membakar ban bekas hingga polisi memadamkannya dengan APAR.
- Aksi ini menyuarakan delapan tuntutan, termasuk penolakan kenaikan BBM dan evaluasi MBG.
- Kapolrestabes Semarang mengerahkan 1.000 personel gabungan dengan pendekatan persuasif.
- Aksi berakhir kondusif pukul 18.20 WIB tanpa bentrokan fisik.
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Kepulan asap putih pekat tampak membumbung tinggi di depan gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, pada Rabu (17/6/2026) petang.
Ban bekas serta spanduk alat peraga aksi sengaja dibakar oleh massa mahasiswa di tengah jalannya demonstrasi yang telah berlangsung sejak sore hari.
Dari balik pagar besi yang dijaga rapat oleh aparat kepolisian, petugas berkali-kali meminta agar peserta aksi lekas menjauh dari titik api, sebelum akhirnya memadamkan kobaran tersebut menggunakan alat pemadam.
Baca juga: Demo Mahasiswa di Semarang Terus Berlanjut, Soroti MBG dan Masuknya TNI ke Ranah Sipil
Sekitar pukul 17.51 WIB, aksi pembakaran terpantau masih terus terjadi. Dari atas mobil komando, seorang orator perempuan dengan lantang menyebut bahwa api yang dinyalakan tersebut hanya sebagai sebuah simbol perlawanan mahasiswa.
"Bapak-bapak, ini hanya api sebagai simbol. Kalian punya senjata lengkap, sama api yang hanya simbol aja takut. Kita enggak bakal bakar gedung, kita cuma mau masuk gedung aja," teriaknya yang langsung disambut sorakan riuh dari para peserta aksi.
Di sisi lain gerbang atau tepatnya di dalam area halaman Kantor Gubernur Jateng, ratusan personel kepolisian tampak bersiaga membentuk barikade pengamanan. Sebuah kendaraan taktis yang bertuliskan Halilintar turut disiagakan di lokasi, sementara petugas melalui pengeras suara terus mengimbau massa untuk segera menjauh dari lingkaran api.
"Menjauh dari lingkaran api karena akan dipadamkan menggunakan alat pemadam. Kami imbau untuk menjauh dari lingkaran api agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," terdengar peringatan dari pengeras suara milik polisi.
Kabut asap diketahui masih menyelimuti kawasan Jalan Pahlawan ketika petugas mulai menyemprotkan dan memadamkan kobaran api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Serbuk putih bekas pemadaman tersebut kemudian terlihat menutupi area trotoar dan sebagian badan jalan raya.
Meskipun sempat diwarnai dengan aksi pembakaran ban, demonstrasi ini secara umum berakhir tanpa adanya insiden bentrokan. Sekitar pukul 18.20 WIB, massa mulai membubarkan diri dengan tertib dan situasi di lokasi pun berangsur kembali normal.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Heri Wahyudi, mengatakan bahwa aksi unjuk rasa tersebut terpantau diikuti oleh sekitar 200 mahasiswa yang berasal dari unsur Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari sejumlah perguruan tinggi.
"Bahwa kegiatan hari ini yang awal mulanya itu dilaksanakan oleh para mahasiswa, unsur daripada PMII dari beberapa kampus telah melaksanakan aksi," kata dia seusai memimpin pengamanan.
Menurut penjelasan Kombes Heri, pihak kepolisian lebih mengedepankan langkah preventif selama jalannya pengamanan berlangsung. Aparat, lanjut dia, telah lebih dulu memberikan imbauan agar proses penyampaian aspirasi dapat dilakukan secara tertib dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
"Untuk pola pengamanan sebetulnya kita melaksanakan kegiatan yang berupa pencegahan. Kita kasih imbauan-imbauan agar mahasiswa ini sadar untuk dapat menyampaikan aspirasinya di muka umum," imbuh dia.
Dia juga menegaskan bahwa tindakan pemadaman api yang dilakukan oleh anggotanya sama sekali bukan untuk membatasi kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan pendapat, melainkan karena penggunaan api dinilai bukan bagian dari sarana penyampaian aspirasi yang lazim dan aman.
"Kemudian untuk kegiatan berupa penyemprotan api, ini merupakan suatu tindakan dari kepolisian bahwa api ini bukan merupakan alat peraga ataupun alat untuk menyampaikan aspirasi atau pendapat. Ini merupakan suatu bentuk penyampaian yang di luar daripada kebiasaan aksi tersebut," kata dia membeberkan alasan teknis.
Untuk mengamankan jalannya demonstrasi kali ini, kepolisian menerjunkan kekuatan penuh dengan mengerahkan sekitar 1.000 personel gabungan yang berasal dari jajaran Polda Jawa Tengah dan Polrestabes Semarang.
Selain melakukan pengamanan secara terbuka, polisi menyatakan terus mengedepankan pendekatan persuasif melalui pengerahan personel intelijen, anggota Bhabinkamtibmas, serta merangkul berbagai elemen masyarakat agar aksi tetap berlangsung dengan damai.
"Intel sudah masuk untuk menggalang mahasiswa agar menyampaikan aspirasi ini dengan tertib dan juga dengan santun," ujarnya.
Aksi unjuk rasa yang dikomandoi oleh PMII Kota Semarang tersebut tercatat membawa delapan poin tuntutan utama kepada pemerintah pusat.
Massa secara tajam menyoroti persoalan pemulihan ekonomi nasional, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), penegakan supremasi sipil, revisi Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI, desakan pengesahan UU Perampasan Aset, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) beserta program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pelaksanaan reforma agraria, hingga tuntutan penghentian tindakan represif aparat kepolisian terhadap masyarakat sipil.
Ketua Umum PC PMII Kota Semarang, Muhammad Afiq Nur Cahaya, mengklaim bahwa aksi tersebut riilnya diikuti oleh sekitar 400 mahasiswa yang berasal dari 10 perguruan tinggi berbeda di wilayah Semarang Raya. Menurut dia, gelombang demonstrasi tidak akan pernah berhenti apabila pihak pemerintah tidak kunjung membuka ruang dialog publik.
"Apabila pada sore hari ini kita tidak mendapat ruang untuk berdialog dan menyampaikan aspirasi, maka nantikan saja beberapa hari atau minggu ke depan kami akan melakukan gebrakan selanjutnya. Kami akan melakukan aksi yang mungkin lebih besar lagi," katanya mengancam.
Berbeda dengan demonstrasi mahasiswa di lokasi yang sama pada Senin (15/6/2026) lalu, aksi protes kali ini tercatat berakhir lebih cepat dan terpantau jauh lebih kondusif. Tidak terlihat adanya pengerahan kendaraan taktis pendesak massa jenis RAISA yang biasanya digunakan untuk mengurai kerumunan seperti pada pengamanan aksi sebelumnya.
Massa mahasiswa membubarkan diri secara mandiri sekitar pukul 18.20 WIB setelah seluruh penyampaian tuntutan selesai dilakukan. Sementara itu, petugas kebersihan di lokasi langsung bergerak mulai membersihkan sisa-sisa serbuk APAR putih, tumpukan abu pembakaran ban, dan sampah yang berserakan di depan gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah. (rez/arl)
| Sindir MBG Dipegang Elite, Mahasiswa UIN Kudus Siap Aksi Turun ke Jalan |
|
|---|
| Demo Mahasiswa di Semarang Terus Berlanjut, Soroti MBG dan Masuknya TNI ke Ranah Sipil |
|
|---|
| Pemerintah Ngotot Pertahankan MBG, Qodari : Emang Balita Suruh Berhenti Makan? |
|
|---|
| Mahasiswa hingga Muhammadiyah Minta MBG Disetop, Pemerintah Masih Ngeyel |
|
|---|
| Kawal Uang Negara, BEM UMP Buka Posko Aduan MBG dan KDMP |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/20260617-pmii-semarang-raya-bakar-ban.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.