Selasa, 2 Juni 2026

Berita Jateng

Mengenal Pohon Langka Padmonobo yang Dianggap Sakral Warga Sragen

pohon ini kerap dianggap sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Tayang:
Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas
Momentum Hari Bumi 2026 menjadi titik penting ketika Kapolres Sragen, Dewiana Syamsu Indyasari bersama para Pejabat Utama (PJU) Polres Sragen melakukan gerakan konservasi pohon langka Padmonobo atau yang juga dikenal masyarakat sebagai Tlogosari. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SRAGEN- Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis jejak-jejak kearifan lokal, sebuah gerakan pelestarian bernilai ekologis sekaligus spiritual lahir dari Bumi Sukowati. 

Momentum Hari Bumi 2026 menjadi titik penting ketika Kapolres Sragen, Dewiana Syamsu Indyasari bersama para Pejabat Utama (PJU) Polres Sragen melakukan gerakan konservasi pohon langka Padmonobo atau yang juga dikenal masyarakat sebagai Tlogosari.

Penanaman pohon langka tersebut digelar di lingkungan Mapolres Sragen pada Jumat, 29 Mei 2026, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan sekaligus upaya menjaga warisan budaya dan spiritual masyarakat Sukowati.


Bagi Kapolres Sragen, penanaman pohon Padmonobo bukan sekadar seremoni penghijauan, melainkan simbol komitmen menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur.

Secara morfologis, pohon Padmonobo memiliki kemiripan dengan pohon Pule atau Walisongo. Namun terdapat karakteristik unik yang menjadikannya berbeda dan dianggap sakral oleh masyarakat tradisional.

Ciri paling menonjol terletak pada pola tumbuh daunnya yang sangat khas. Dalam satu klaster, daun Padmonobo hanya tumbuh berjumlah 5, 6, atau 7 helai — tidak kurang dan tidak lebih. 

Baca juga: KPK Awasi Penyelenggaraan SPMB, Begini Tanggapan Disdik Kota Semarang

Bagi masyarakat Jawa, angka tersebut bukan sekadar hitungan biologis, melainkan simbol kosmologi spiritual.
Angka lima dimaknai sebagai filosofi Kiblat Papat Limo Pancer, yaitu keseimbangan arah kehidupan manusia yang terpusat pada Sang Pencipta.

Angka tujuh atau pitu dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan ilahi.


Karena itulah, pohon ini kerap dianggap sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Nama lain pohon ini, yakni Tlogosari, juga menyimpan makna mendalam. Dalam penafsiran budaya Jawa, Tlogosari berarti “inti atau bunga yang berada di tengah telaga”.

 

Filosofi tersebut menggambarkan kondisi jiwa yang tenang, jernih, dan mencapai titik kesadaran tertinggi dalam kedekatan kepada Tuhan.


“Padmonobo bukan sekadar vegetasi langka, tetapi simbol spiritualitas dan identitas budaya masyarakat Sukowati yang harus dijaga bersama,” ujar Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari dalam keterangannya.

 

Keberadaan pohon Padmonobo diketahui tersebar di sejumlah lokasi yang selama ini dikenal masyarakat memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.

Salah satu lokasi penting berada di Dukuh Glagah, Desa Blangu, Kecamatan Gesi. Berdasarkan cerita babad masyarakat setempat, pohon ini pertama kali ditemukan di pusar atau titik tengah Gunung Gendeng. Posisi tersebut diyakini menguatkan makna asli nama “Padmanaba” atau sesuatu yang tumbuh dari pusat kehidupan.

Selain itu, pohon Padmonobo juga ditemukan di kawasan Makam Butuh, Kecamatan Plupuh, wilayah yang erat dikaitkan dengan jejak sejarah Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya.


Lokasi lainnya berada di kawasan Mojoroto, Sambirejo, tepatnya di area petilasan Ki Ageng Srenggi yang berdekatan dengan bumi perkemahan Ki Ageng Srenggi.

Keberadaan pohon tersebut di kawasan-kawasan historis memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Padmonobo sejak dahulu digunakan sebagai penanda tempat suci dan kawasan sakral.

Gerakan konservasi yang dilakukan Kapolres Sragen bersama jajaran PJU Polres Sragen ini dinilai memiliki makna jauh lebih luas dibanding sekadar penghijauan lingkungan.


Kapolres Sragen menegaskan bahwa menjaga kelestarian Padmonobo berarti menjaga memori sejarah, filosofi leluhur, sekaligus keseimbangan ekologis wilayah Sukowati.

 


Di tengah ancaman hilangnya vegetasi asli akibat alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi tanaman endemik, gerakan tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat untuk kembali mengenali identitas ekologis daerahnya sendiri.

 


“Menjaga alam sejatinya adalah menjaga warisan leluhur dan menjaga masa depan generasi berikutnya,” ungkap AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.

 

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved