Berita Jateng
Spot Terbaik Mancing di Laut Kota Semarang, Tinggal Pilih Target Ikan Apa
kawasan pesisir Semarang juga dinilai memiliki banyak spot menarik dengan karakter ikan yang berbeda-beda.
Penulis: Franciskus Ariel Setiaputra | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG- Kota Semarang tidak hanya dikenal kaya dengan destinasi kuliner, maupun destinasi wisata bersejarah.
Bagi para penghobi memancing, kawasan pesisir Semarang juga dinilai memiliki banyak spot menarik dengan karakter ikan yang berbeda-beda.
Hal itu diungkapkan Fajar Alfian Permana Putra (31), penghobi mancing asal Ungaran, Kabupaten Semarang yang aktif berburu ikan di sejumlah kawasan pesisir Semarang.
Menurut pria yang bekerja di salah satu perusahaan industri manufaktur itu, para angler di Semarang memiliki banyak pilihan lokasi memancing, mulai dari area pantai, pelabuhan, hingga kawasan tambak.
“Spot mancing di Semarang itu banyak banget. Tinggal pilih mau target ikan apa,” ujar Fajar.
Ia menyebut beberapa lokasi yang cukup dikenal para pemancing antara lain kawasan Tugu, Pantai Tirang, Pantai Maron, Pantai Marina, area pelabuhan, hingga Kampung Bahari Tambaklorok.
Menurutnya, setiap lokasi memiliki karakter berbeda, baik dari kondisi air, arus, maupun jenis ikan yang biasa didapatkan.
“Semua spot punya target ikan masing-masing,” katanya.
Fajar mengaku cukup sering memancing di kawasan Pantai Marina dan perairan sekitar pesisir Semarang sebelum akhirnya rutin melaut lebih jauh menggunakan perahu.
Ia mengatakan banyak pemancing dari luar daerah juga datang mencoba spot di Semarang.
Bahkan, saat memancing melalui kawasan Pantai Tirang, ia pernah bertemu rombongan pemancing asal Solo yang sengaja datang ke Semarang untuk berburu ikan.
“Waktu itu kebetulan ketemu pemancing dari Solo. Jadi memang banyak juga yang datang dari luar kota,” ujarnya.
Menurut Fajar, salah satu daya tarik spot mancing di Semarang adalah keberagaman jenis ikan yang bisa ditemukan.
Beberapa jenis ikan yang sering didapat di kawasan pesisir hingga laut lepas Semarang antara lain kerapu, barracuda, talang-talangan, sembilang, layur, tenggiri, giant trevally (GT), diamond trevally, hingga kakap putih.
Ketika berhasil menaikkan ikan besar seperti GT (giant trevally), tenggiri, diamond trevally, atau kakap putih, kepuasan yang dirasakan sulit digambarkan.
“Pas ikan naik ke atas itu rasanya puas banget. Apalagi kalau lawannya kuat. Kadang tangan sampai pegal tapi malah bikin nagih,” katanya.
Tidak hanya soal hasil tangkapan, Fajar menilai aktivitas memancing di Semarang juga menawarkan pengalaman sosial antar pemancing.
Ia mengaku banyak belajar teknik memancing dari rekan-rekan kerjanya yang lebih senior di dunia angler.
Meski tidak bergabung dengan komunitas, ia merasa suasana antar pemancing di Semarang cukup terbuka dan saling berbagi pengalaman.
“Kalau ketemu sesama mancing biasanya langsung ngobrol sendiri, saling tanya spot atau umpan,” ujarnya.
Untuk memancing di tengah laut, Fajar dan teman-temannya biasanya berangkat dari pesisir Semarang menggunakan perahu kecil dengan waktu perjalanan sekitar dua jam menuju titik memancing di kedalaman 50 hingga 60 meter.
Dalam sekali perjalanan, jumlah pemancing bisa terdiri dari empat hingga delapan orang.
Menurutnya, perjalanan menuju spot juga menjadi bagian dari keseruan memancing.
Makanya, kata dia, memancing di laut itu punya sensasi tersendiri.
“Kadang belum dapat ikan saja sudah senang duluan karena suasananya,” katanya.
"Kalau sudah sampai tengah laut itu rasanya beda banget. Apalagi pas suasana masih gelap atau matahari baru muncul,” jelasnya.
Fajar sendiri lebih menyukai teknik casting menggunakan joran ultra light (UL) karena sensasi tarikan ikan terasa lebih kuat.
Dia menyebut, memancing bukan hanya soal membawa pulang ikan, tetapi juga menjadi hiburan untuk menghilangkan penat dari rutinitas pekerjaan.
“Kalau habis mancing itu pikiran lebih fresh,” jelasnya.
** Hobi masa Kecil
Jauh sebelum mengenal pekerjaan, berjibaku dengan target penjualan, hingga rutinitas sebagai karyawan Fajar kecil lebih dulu mengenal kesabaran lewat kail dan umpan di sungai dekat rumahnya.
“Dulu waktu SD mancingnya cuma di sungai dekat rumah bareng teman-teman. Habis mancing hasilnya dimasak terus dimakan bareng-bareng,” kenangnya.
Saat itu, memancing hanyalah permainan sederhana anak kampung. Mereka berjalan kaki membawa pancing seadanya, mencari spot di pinggir sungai sambil bercanda bersama teman-teman.
Dari pengalaman sederhana itulah kecintaannya pada dunia memancing tumbuh perlahan.
Memasuki usia SMP, petualangan memancing Fajar mulai berkembang. Ia mulai ikut tetangga memancing di rawa hingga diajak saudara berburu ikan bandeng di kawasan tambak Semarang seperti Baron dan Kampung Laut.
Baca juga: Diiring Ribuan Warga, 1.054 Jemaah Calon Haji Banjarnegara Berangkat Malam Ini
Dari situ, ia mulai mengenal bahwa memancing bukan hanya soal mendapatkan ikan, melainkan tentang proses menikmati waktu, membaca alam, dan menunggu dengan sabar.
“Kalau dulu masih kecil ya yang penting senang saja. Tapi makin besar jadi tahu kalau mancing itu butuh feeling juga,” ujarnya.
Hobi tersebut sempat menghilang ketika ia fokus pada hobi lain yakni menggeluti sepak bola.
Fajar diketahui merupakan sosok yang pernah berkostum klub sepakbola PSIS Semarang selama beberapa tahun hingga musim 2018.
Setelah tidak lagi aktif di sepakbola, Fajar fokus dengan pekerjaannya saat ini.
“Pas mulai sibuk sepak bola sama kerja, hobi mancing mulai saya kesampingkan. Jarang banget mancing,” katanya.
Namun kerinduan pada suasana memancing ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Setelah beberapa tahun, ia kembali aktif dengan hobi lamanya itu.
Awalnya hanya iseng memancing di pinggir Pantai Marina. Tetapi tanpa disadari, rasa candu itu muncul kembali.
“Awalnya cuma nostalgia saja. Eh ternyata malah ketagihan lagi,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Mancing-semarang.jpg)