Jumat, 15 Mei 2026

Berita Jateng

Rekor ODGJ Selama 31 Tahun Menghuni Panti Among Jiwo Semarang

overload terjadi karena banyaknya kiriman orang terlantar dan ODGJ dari hasil razia maupun laporan masyarakat.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
AI/ DALL-E
GANGGUAN JIWA: Ilustrasi foto yang diciptakan menggunakan kecerdasan buatan atau AI menampakkan orang depresi atau orang dengan gangguan jiwa. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - UPTD Among Jiwo mengalami kelebihan kapasitas penghuni hingga lebih dari 60 persen.


Rumah singgah milik Pemerintah Kota Semarang di bawah naungan Dinas Sosial yang berada di jalan Beringin Putih, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang itu saat ini menampung sekitar 75 orang, padahal kapasitas idealnya hanya 40-50 orang.


Kepala UPTD Among Jiwo, Setiyani Eka Ambarsari mengatakan, kondisi overload terjadi karena banyaknya kiriman orang terlantar dan ODGJ dari hasil razia maupun laporan masyarakat.


"Kapasitas di Among Jiwo itu sebetulnya 40 sampai 50 (orang), cuma kita overload. Sekarang 75-an," kata Ambar, sapaan Setiyani Eka Ambarsari dihubungi Tribun Jateng, Kamis (14/5/2026).


Menurut dia, Among Jiwo menjadi tempat pertama yang dituju ketika ada penjangkauan oleh Satpol PP, Polres, Polsek, maupun laporan warga terkait orang terlantar dan ODGJ di jalanan.


"Kalau sudah di Among Jiwo kita telusuri, kita padankan di Dispendukcapil, kalau ketemu alamatnya ya kita kembalikan ke keluarga. Tapi kadang-kadang kan yang menjadi permasalahan kalau tidak ada keluarganya itu loh," katanya.


Padahal, lanjut dia, sesuai aturan Kementerian Sosial, rumah singgah hanya diperuntukkan sebagai tempat penitipan sementara selama 7 hingga 14 hari.


Namun banyak penghuni yang akhirnya menetap bertahun-tahun karena identitas dan keluarganya tidak diketahui.


"Nah, tapi kalau kita tidak menemukan alamatnya, otomatis ya di Among Jiwo sampai meninggal kadang," ungkapnya.


Bahkan, penghuni terlama disebut sudah berada di Among Jiwo sejak tahun 1995-1996.


"Ada yang mulai tahun 1995-1996 sampai sepuh di Among Jiwo ada," bebernya.

Baca juga: Puluhan Hektar Bekas Tambang di Bawen Akan Disulap Jadi Tempat Wisata


Ia menyebut penghuni tersebut merupakan laki-laki terlantar yang diduga berasal dari Jakarta berdasarkan logat bicaranya. Namun hingga kini identitas lengkap dan keluarganya belum diketahui.


Untuk memenuhi layanan dasar, pihak Among Jiwo juga membuatkan KTP bagi penghuni yang tidak memiliki identitas tersebut.


"Karena untuk pelayanan kita kan harus ada identitas ya, Mbak. Kalau mau kesehatan, mau dirujuk BPJS gitu kan harus punya KTP. Jadi kita buatkan KTP," jelasnya.


Selain warga Kota Semarang, sebutnya, Among Jiwo juga kerap menerima penghuni dari luar daerah hingga luar provinsi.


Satu di antaranya korban tabrak lari asal Jawa Timur yang ditemukan dalam kondisi tidak sadar.


"Dia sudah tidak bisa apa-apa, kemarin malah masuk ke Among Jiwo itu posisi makan saja pakai sonde enggak sadar dan ternyata dia itu ber-KTP Jawa Timur," imbuhnya. (idy)

 

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved