Senin, 11 Mei 2026

Berita Jateng

Penghasilan Hanya Rp 30 Ribu, Penjual Pisang di Wonosobo Berhasil Naik Haji

Setelah bertahun-tahun bekerja, Painah akhirnya memiliki lahan sendiri untuk ditanami pohon pisang.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas/Imah Masitoh
KISAH INSPIRATIF - Painah (65), warga RT 03 RW 13 Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat, saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2026). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Di usia 65 tahun, Painah tak pernah membayangkan langkah kecilnya memetik daun pisang setiap hari akan membawanya sampai ke Tanah Suci.


Warga RT 03 RW 13 Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat itu mengaku hanya menjalani hidup seperti biasa yakni bekerja, menabung sedikit demi sedikit, lalu bersyukur atas apa yang dimiliki.


Puluhan tahun terakhir, kesehariannya dihabiskan sebagai buruh pemetik daun pisang klutuk. Daun itu kemudian dijual ke pasar pagi, warung-warung, hingga pelanggan di kawasan Sumberan dan Kampung Puntuk.


“Setiap hari metik daun nggak pernah telat,” kata Painah mengunakan bahasa Jawa keseharian saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2026).


Rutinitasnya dimulai saat sebagian besar orang masih terlelap tidur. Sekitar pukul 01.30 WIB, ia sudah bersiap berangkat mengambil daun pisang dari kebun sebelum dibawa ke pasar pagi.


Menurut Painah, daun pisang yang paling banyak dicari pembeli adalah jenis klutuk. Sementara jenis daun lain biasanya kurang diminati sehingga lebih sulit dijual.


Selama bertahun-tahun, Painah mengambil daun dari kebun milik orang lain. Bahkan sebelumnya ia sempat membeli daun untuk dijual kembali demi mendapatkan keuntungan kecil dari hasil berdagang.


Namun dalam empat tahun terakhir, keadaan mulai berubah. Setelah bertahun-tahun bekerja, Painah akhirnya memiliki lahan sendiri untuk ditanami pohon pisang.


“Sekarang sudah ambil di lahan sendiri,” ujarnya.


Daun-daun yang sudah dipetik kemudian dibersihkan dan dirapikan terlebih dahulu sebelum ditimbang. Biasanya pekerjaan itu dilakukan malam atau dini hari agar pagi harinya daun siap dibawa ke pasar.


"Saya berangkat dari rumah jam setengah dua pagi, jualan di pasar pagi sampai subuh.  Biasanya kalau siang saya antar ke pelanggan," ungkapnya.


Selain berjualan di pasar pagi, Painah juga mengantar langsung pesanan pelanggan ke sejumlah tempat. Ia biasa membawa daun ke kawasan Sumberan, Kampung Puntuk, hingga warung-warung kecil langganannya.


Jumlah pesanan pun tidak selalu banyak. Kadang hanya dua kilogram, tiga kilogram, atau lima kilogram untuk setiap pelanggan.


Harga jual daun pisang juga berbeda tergantung kualitasnya. Untuk daun kualitas bagus dijual Rp5 ribu per kilogram. Sedangkan kualitas sedang dijual Rp3 ribu dan kualitas rendah sekitar Rp2 ribu per kilogram.


Meski harga kebutuhan sehari-hari terus naik, Painah mengaku tidak pernah menaikkan harga jual daun secara berlebihan. Baginya, menjaga hubungan baik dengan pelanggan jauh lebih penting dibanding mengambil keuntungan besar.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved