Jumat, 5 Juni 2026

Berita Blora

Tertinggi di Jateng, Blora Berhasil Kembalikan 4.000 Anak Putus Sekolah ke Bangku Pendidikan

Dinas Pendidikan Blora raih capaian tertinggi di Jateng dengan mengembalikan 4.000 anak tidak sekolah (ATS) ke jalur pendidikan formal dan nonformal.

Tayang:
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: Rustam Aji
Tribun Jateng/M Iqbal Shukri
KEMBALI KE SEKOLAH - Ilustrasi sejumlah peserta didik SDN 1 Patalan Blora. 
Ringkasan Berita:
  • Dinas Pendidikan Kabupaten Blora mencatat capaian tertinggi di Jawa Tengah dalam upaya mengembalikan anak tidak sekolah (ATS) ke dunia pendidikan. 
  • Sekitar 4.000 anak berhasil kembali mengikuti pembelajaran, baik di jalur formal maupun nonformal.
  • Atas capaian tersebut, Blora menerima penghargaan dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, seiring dengan semakin baiknya penanganan ATS di Blora.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BLORA – Kabupaten Blora mencatatkan prestasi gemilang sebagai daerah dengan capaian tertinggi di Jawa Tengah dalam upaya mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke dunia pendidikan.

Berdasarkan data terbaru per Selasa (21/4/2026), sekitar 4.000 anak di Blora berhasil ditarik kembali untuk mengikuti pembelajaran di jalur formal maupun nonformal.

Atas keberhasilan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Blora menerima penghargaan dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah.

Blora dinilai sebagai daerah terbaik bersama Kabupaten Pemalang dalam hal penanganan dan intervensi anak putus sekolah.

"Datanya terbaik di Jawa Tengah itu Kabupaten Blora dan Pemalang. Blora menjadi yang terbanyak dalam mengembalikan ATS kembali ke bangku sekolah," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Blora, Nuril Huda, dalam keterangannya di Kantor Dinas Pendidikan Blora.

Keberhasilan ini, lanjut Nuril, didorong oleh optimalisasi Sistem Informasi Layanan Anak Tidak Sekolah (SILAT).

Tahun ini, sistem tersebut dikembangkan tidak hanya untuk pendataan dan intervensi, tetapi juga untuk memberikan pendekatan pembelajaran khusus yang disesuaikan dengan latar belakang sosial dan ekonomi masing-masing anak.

Baca juga: Biaya Hidup di Purwokerto Kian Mahal, Cukupkah Uang Saku Rp1,5 Juta bagi Mahasiswa?

"Sekarang SILAT dikembangkan lagi agar para ATS ini mendapat perlakuan khusus terkait kegiatan belajar mengajar (KBM).

Latar belakang mereka beragam, jadi pendekatannya tidak bisa disamakan dengan siswa reguler," jelasnya.

Meski mencetak prestasi, tantangan besar masih membayangi. Tercatat masih ada sekitar 1.000 anak di Blora yang belum pernah mengenyam pendidikan, di mana mayoritas merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Nuril mengakui bahwa keterbatasan jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang hanya berjumlah 8 sekolah dan lokasinya yang tidak merata menjadi kendala utama.

Pihak Dinas Pendidikan kini mendorong Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Blora untuk merumuskan model pembelajaran khusus bagi ABK agar mereka mendapatkan hak pendidikan yang layak.

 Nuril berharap melalui pengembangan sistem SILAT dan kolaborasi lintas sektor, penanganan ATS, terutama bagi anak berkebutuhan khusus, dapat segera dituntaskan secara optimal. (Iqs)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved