Berita Jateng
Peluang Usaha Sayur Hidroponik di Kota, Keunggulan dan Pemasarannya
metode menanam sayur hidroponik lebih menguntungkan karena sayur menjadi lebih bersih dan segar.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tangan Harianto (50) cekatan menata deretan tanaman pakcoi di atas pipa putih yang memanjang di lahan perkebunan dan peternakan Sandi Buana Farm, Mangunsari , Gunungpati, Kota Semarang, Kamis (16/4/2026).
Harianto memeriksa pula tanaman lainnya seperti sonybel sejenis selada, kubis keriting, dan sayuran lainnya agar tidak kekurangan air. Sebab pada siang itu, matahari yang menggantung di langit Semarang sangat menyengat.
"Sayuran di sini ditanam secara hidroponik yang tergantung dengan sirkulasi air, jadi saya harus terus memastikan ketersediaan air," ujar Harianto kepada Tribunjateng.com.
Kepala kebun di Sandi Buana Farm itu menyebut, metode menanam sayur hidroponik lebih menguntungkan karena sayur menjadi lebih bersih dan segar.
Sejauh ini, kendala yang dihadapi dari proses bertani hidroponik bisa teratasi.
"Sayur hidroponik kelebihannya proses layunya lama. Kalau sayur tanah satu hari sudah layu. Kalau sayur hidroponik bisa bertahan sampai 3 hari," tuturnya.
Hasil sayuran dari Sandi Buana Farm dijual langsung ke restoran dan hotel di Kota Semarang. Harga sayuran ini beragam, jenis pakcoy dijual Rp15 ribu per kilogram, Selada 25 ribu perkilogram, Romen 30 ribu perkilogram, Daun arugula 120 ribu perkilogra. Jenis-jenis selada di angka Rp80 ribu perkilogram.
"Sehari bisa menjual antara 50 kilogram hingga 100 kilogram semua jenis sayuran. Tergantung permintaan konsumen," terangnya.
Sementara itu, Pemilik Sandi Buana Farm, Sandi Febrianto (29) menjelaskan, bisnis pertanian hidroponiknya sudah dijalankan sejak tahun 2019.
Sayuran tersebut ditanam di lahan seluas 3.000 hektare dan melon di lahan seluas 1.000 hektare. "Kalau sayuran kami jual ke resto dan hotel, perkebunan melon kami jadikan wahana wisata," paparnya.
Sandi mengungkap, pertanian dengan sistem hidroponik atau budidaya tanaman tanpa tanah (soilless culture) yang memanfaatkan air bernutrisi (AB Mix) untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman menjadi pilihannya daripada pertanian di atas tanah.
Alasannya, sistem hidroponik hanya perlu melakukan perawatan dengan memeriksa air setiap hari.
Langkah lainnya, pemeriksaan suhu dan nutrisi air di angka 1000 PPM (parts per million) air. pH air (potential of hydrogen) atau ukuran tingkat keasaman atau kebasaan juga harus dijaga sekitar angka enam hingga tujuh.
"Kami juga semprot pakai pestisida organik untuk menunjang tanaman itu biar lebih kebal dari hama," bebernya.
Alasannya lainnya, ia juga lebih bisa menghemat jumlah pekerja. Karena, luasan lahan 2000 meter persegi hanya membutuhkan dua orang. Berbeda dengan pertanian langsung di atas tanah bakal menyedot jumlah pekerja lebih banyak. "Kemudian perawatannya juga lebih mudah. terus hasil panennya juga lebih bagus. lebih efisien di sistem hidroponik," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Hidroponik-semarang-ng.jpg)