Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Jateng

Bertani di Lahan Sempit Kota Semarang, Petani Muda Raup Omzet Jutaan dari Hidroponik

Ahmad memproduksi sayuran hidroponik yang dijual dalam kemasan dengan berat sekitar 300 hingga 400 gram per pack.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: khoirul muzaki
Tribun Banyumas/Idayatul Rohmah
HIDROPONIK - Ahmad Sidiq, pemilik kebun hidroponik bernama Ahmad Farm yang berlokasi di jalan Pelamongansari V, Kelurahan Pelamongan Sari, Kecamatan Pedurungan, sedang menyiapkan media semai, Minggu (8/3/2026). 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Profesi petani kini tak lagi identik dengan pekerjaan konvensional di sawah. Di tangan generasi muda, sektor pertanian justru berkembang dengan teknologi dan cara yang lebih modern.


Satu di antaranya dilakukan Ahmad Sidiq (31), petani milenial yang sukses mengembangkan kebun hidroponik di Kota Semarang.


Ahmad merupakan pemilik kebun hidroponik bernama Ahmad Farm yang berlokasi di jalan Pelamongansari V, Kelurahan Pelamongan Sari, Kecamatan Pedurungan. Di atas lahan berukuran 10 x 30 meter, ia membudidayakan sayuran hidroponik dengan fokus pada sawi dan selada.


Tribun Jateng mengunjungi kebun tersebut.
Instalasi hidroponik tersusun rapi memenuhi lahan, dengan lubang-lubang tanam yang dipenuhi sawi dan selada berwarna hijau segar.


Di tepi kebun, Ahmad berdiri sambil menyiapkan media semai. Tangannya teliti menaruh satu per satu biji selada ke dalam lubang kecil pada instalasi semai. Aktivitas itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, bahkan telah menjadi penopang utama kebutuhan keluarga.


Usaha ini mulai ia tekuni sejak tahun 2020. Awalnya, Ahmad tertarik setelah melihat kebun hidroponik milik temannya saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN).


"Waktu itu saya lihat story teman yang punya menanam secara hidroponik. Kok bagus 'menarik', bisa nanam enggak di tanah, tetapi di talang-talang gitu. Akhirnya saya tanya-tanya, lalu coba bikin sendiri tahun 2020," ujarnya ditemui Tribun Jateng, Minggu (8/3/2026).


Ia memulai usahanya dengan instalasi kecil berkapasitas 400 lubang tanam. Keuntungan yang diperoleh kemudian diputar kembali untuk memperbesar usaha. Secara bertahap, instalasi terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 4.000 lubang tanam.


"Pertama saya buat hanya 400 lubang. Saya jual, ada keuntungan, buat lagi 600 lubang. Terus tahun berikutnya tambah 600 lagi sampai sekarang di 2026 ada total sekitar 4.000 lubang tanam," ujarnya.


Dari kebun tersebut, Ahmad memproduksi sayuran hidroponik yang dijual dalam kemasan dengan berat sekitar 300 hingga 400 gram per pack.


Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 40 hingga 60 pack sayuran. Mayoritas produksi adalah sawi yang paling banyak diminati pasar. Dari total penjualan harian, sekitar 40 pack merupakan sawi dan sisanya selada.


Sayuran tersebut dipasarkan ke beberapa toko sayur retail di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Selain itu, ada pula pembeli yang datang langsung ke kebun setelah melihat tanaman yang ditanam di lokasi yang berada di pinggir jalan.


Harga satu pack sayuran dijual sekitar Rp4.000. Jika dihitung secara rata-rata, Ahmad bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp240.000 per hari atau lebih dari Rp6 juta per bulan.


"Jadi misal Rp240.000 itu dikalikan sebulan  ya bisa (mendapat omzet) Rp6 juta lebih sedikit," tuturnya.


Jumlah tersebut bahkan sudah melampaui Upah Minimum Kota (UMK) di sejumlah daerah, menjadikan usaha hidroponik sebagai sumber penghasilan utama bagi Ahmad.

Sumber: Tribun Banyumas
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved