Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Batang

Pantai Sigandu Batang Nasibmu Kini, Sepi karena Diterjang Abrasi

Lelaki renta itu hidup dalam kecemasan, takut bangunan sederhana yang menjadi sumber nafkahnya ambruk sewaktu-waktu akibat abrasi.

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Rustam Aji
Tribun Jateng/Tito Isna Utama
KUMUH - Suasana Pantai Sigandu yang dipenuhi tumpukan sampah laut dan warung yang tak terurus akibat musim baratan dan ancaman abrasi setiap tahun melanda. 

Ringkasan Berita:
  • Pantai Sigandu Batang yang dulu terkenal sekarang hanya sekedar cerita warga setempat.
  • Pantai yang dulu ramai dan menjadi primadona wisata perlahan terkikis, bukan hanya pasirnya, tetapi juga harapan para pedagang kecil.
  • Pantai Sigandu pernah berada di masa kejayaan pada rentang 2003 hingga 2009.
  • Kini kondisinya penuh tumpukan sampah laut setiap baratan dan abrasi setiap tahun semakin ganas.
  • Pengunjung pun mulai sepi dan saat musim hujan, nyaris tidak ada wisatawan datang.

TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Pantai Sigandu Batang seolah sudah kehilangan harapan.

Pantai yang dulu elok, setiap hari minggu dan libur ramai wisatawan yang datang, kini mendadak sunyi sepi.

Ya, sejak beberapa tahun abrasi mengikis pantai ini, perlahan tapi pasti, para pedagang yang membuka warung, mulai menghilang dan memilih untuk pergi.

Seorang warga setempat, yang juga tetap bertahan di warungnya, Tarmono (73), kini tiap malam terasa susah untuk memejamkan mata.

Ganasnya abrasi akibat ombak yang perlahan mengikis pasir, membuat Tarmono sulit tidur.

Bukan karena usia senja, melainkan karena bunyi ombak Pantai Sigandu yang kian mendekat ke warung kecilnya. 

Lelaki renta itu seperti hidup dalam kecemasan, takut bangunan sederhana yang menjadi sumber nafkahnya ambruk sewaktu-waktu akibat abrasi.

Baca juga: Abrasi Pantai Batang Sudah Mengkhawatirkan Capai 4 Meter, Pemkab Perkuat Penataan Ruang Laut

Ia menyaksikan sendiri bagaimana pantai yang dulu ramai dan menjadi primadona wisata perlahan terkikis, bukan hanya pasirnya, tetapi juga harapan para pedagang kecil.

“Dulu ada 12 warung, sekarang tinggal 8. Banyak yang ambruk sejak abrasi parah tahun 2009, tambah kenceng lagi 2010,” kata Tarmono kepada Tribunjateng, Minggu (25/1/2026).

Warungnya sendiri sudah berkali-kali dipindah mundur. 

Bahkan, belum genap satu tahun, ia kembali harus menggeser bangunan demi menghindari terjangan air laut.

“Kalau tidak dipindah ya susah, bisa roboh. Mau tidur juga nggak nyenyak, tiap bulan tanahnya pasti berkurang,” ucapnya.

Pantai Sigandu pernah berada di masa kejayaan. 

Tarmono mengenang awal dirinya berjualan sekiranya 1999 - 2000, saat harga karcis masuk masih Rp 600.

Diketahui sekarang tiket masuk kawasan pariwisata satu orangnya sudah Rp 5000.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved