Berita Jateng
Rizki di Setiap Tanggal, Kisah Satiman Penjual Kalender di Johar Semarang
Harga kalender yang dijual bervariasi, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp25 ribu perkalender.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: khoirul muzaki
Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 50 kalender bahkan bisa lebih, atau malah sama sekali kosong.
“Kemarin bisa lebih dari 50 sangat bersyukur, bisa untuk ditabung dan kebutuhan harian. Tapi kadang ya ga pasti juga penjualannya tergantung cuacanya, kalau hujan seharian bisa-bisa ga ada yang beli,” katanya.
Ia sudah mulai berjualan kalender sejak Oktober 2025, meski puncak pembeli baru terasa menjelang Desember dan awal tahun.
Cuaca tak selalu bersahabat. Jika hujan turun, Satiman sigap menutup lapaknya dengan plastik dan merapikan barang dagangan.
“Kalau hujan ya ditutup plastik, langsung diringkesi,” ujarnya.
Satiman berasal dari Surakarta. Di Semarang, ia menetap bersama istri dan satu anaknya. Ia memiliki empat anak, tiga menantu, serta tiga cucu.
Hasil dari berjualan kalender musiman itu dia gunakan untuk kehidupan sehari-hari, menafkahi istrinya dan satu anaknya yang masih tinggal bersamanya.
Salah satu pembeli, Suyatno, mengaku rutin membeli kalender setiap awal tahun untuk kebutuhan rumah.
Bagi buruh harian sepertinya, kalender bukan sekadar hiasan dinding, melainkan penanda ritme kerjanya.
Dari lembaran itu, ia menandai hari-hari bekerja sebagai kuli, sekaligus mengatur waktu libur meski tak jarang tanggal merah tetap harus ia lewati dengan bekerja.
“Butuh banget, kalenderkan penting untuk nanggali (menandai) hari pas kerja di tempat ini atau di tempat yang lain, harga standar untuk satu kalendernya saya beli dua,” ujarnya.
Suyatno menilai harga kalender yang ditawarkan Satiman cukup masuk akal dan terjangkau, sesuai dengan kondisi pekerja harian yang perlu menghitung pengeluaran dengan cermat. (Rad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/Penjual-kalender.jpg)