Berita Jateng
Akhir Tahun Harga Emas Malah Anjlok, Berikut Prediksi Harga Emas 2026
Harga emas logam mulia Antam mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: khoirul muzaki
TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Harga emas logam mulia Antam mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut menjelang akhir tahun 2025.
Pada Selasa (30/12/2025), harga emas batangan Antam tercatat sebesar Rp 2.501.000/gram. Angka tersebut turun Rp 95.000 dibandingkan harga sebelumnya pada Senin (29/12/2025) yang berada di level Rp 2.596.000/gram.
Penurunan ini melanjutkan tren koreksi harga yang telah terjadi sehari sebelumnya, di mana harga emas Antam juga sempat turun sebesar Rp 9.000/gram dari harga yang telah tembus Rp 2.605.000/gram.
Meski mengalami penurunan akhir tahun ini, harga emas diperkirakan masih berada pada tren kenaikan pada 2026 mendatang.
Akademisi Universitas Negeri Semarang, Ubaedul Mustofa menilai, emas masih menjadi salah satu instrumen investasi paling aman bagi masyarakat.
Emas merupakan aset yang relatif stabil. Karena itu, dalam jangka panjang harga emas diprediksi cenderung terus meningkat, meskipun dalam periode tertentu bisa mengalami naik-turun mengikuti dinamika pasar.
Baca juga: Berbahan Sabut Kelapa, Cocomesh Produksi Warga Binaan Kebumen Tembus Pasar Ekspor
"Kalau dilihat secara jangka panjang, emas itu potensinya tetap naik. Dalam jangka pendek memang fluktuatif, tetapi untuk satu sampai dua tahun ke depan, termasuk 2026, masih berada pada jalur kenaikan," ujarnya, Selasa (30/12/2025).
Dia menjelaskan, harga emas terbentuk dari mekanisme permintaan dan penawaran. Ketika harga terus naik, hal itu menandakan permintaan masyarakat masih tinggi dan daya beli terhadap emas masih cukup kuat. Sebaliknya, jika daya beli mulai melemah, harga berpotensi terkoreksi.
"Harga emas yang sekarang sudah cukup tinggi itu menunjukkan permintaan masih besar. Artinya, masyarakat masih mampu menjangkau harga tersebut. Kalau nanti dianggap terlalu mahal dan permintaan turun, barulah ada potensi penurunan harga," jelasnya.
Ubaed juga menyoroti kondisi ekonomi dan geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil. Konflik internasional, ketidakpastian politik, hingga gejolak ekonomi dunia dinilai mendorong emas semakin diminati sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
"Dalam kondisi global yang tidak menentu, emas justru menjadi alternatif investasi yang dianggap berisiko rendah dan cukup likuid, karena mudah dicairkan. Ini membuat emas lebih diminati dibandingkan saham yang fluktuasinya tinggi atau deposito yang imbal hasilnya dianggap kurang kompetitif," paparnya.
Kepala Departemen Business Support PT Pegadaian Kanwil 11 Semarang, Tyas Ari Hidayat mengatakan, Pegadaian memprediksi harga emas pada 2026 masih berpotensi mengalami kenaikan, meski tidak drastis seperti pada 2025.
"Prediksi kami, harga emas tahun depan tetap naik, walaupun mungkin ada fase turun sesaat. Tapi biasanya tidak lama, kemudian naik lagi. Banyak faktor yang memengaruhi, jadi kami tetap berhati-hati," ujarnya.
Saat harga tinggi, lanjut Tyas, masyarakat justru ramai-ramai beli untuk investasi. Dia menilai, hal itu menunjukan kesadaran menabung emas sekarang sudah jauh lebih baik.
Dalam menghadapi harga emas yang kian tinggi, Pegadaian menyiapkan berbagai strategi agar investasi emas tetap dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banyumas/foto/bank/originals/emas-antam-logam-mulia.jpg)