Rabu, 13 Mei 2026

Berita Jateng

Sopir Ungkap Berapa Penghasilan Sopir Bajaj di Semarang

Di tengah dirinya menunggu orderan, dia bercerita bahwa baru sebulan menjajal hidup baru sebagai pengemudi bajaj online

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: khoirul muzaki
Tribunnews.com/Rezanda Akbar D
MENUNGGU PENUMPANG - Surakhman usai menurunkan penumpang dan menunggu penumpang di jalan Imam Bonjol Semarang 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Surakhman (34), menurunkan penumpang di depan Jalan Imambonjol Semarang, usai menurunkan penumpang Surakhman yang menarik bajaj berwarna putih itu menggulung cover bajaj di sisi kanan dan kiri.

Setelah itu dia beristirahat sebentar sambil mengecek aplikasi maxride.


“Ini sudah tarikan ke tujuh, ya bersyukur,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).


Di tengah dirinya menunggu orderan, dia bercerita bahwa baru sebulan menjajal hidup baru sebagai pengemudi bajaj online dan sejak itu, ritme rizkinya berubah drastis.


“Kalau saya ini nyewa, kalau tidak untuk tidak saya jalani. Sehari sewa 75 ribu, dapat 10 penumpang sudah minimal 200 ribu sehari. Dulu jualan keliling cuma dapat Rp60ribu,” ungkapnya.


Ia tahu peluang ini dari temannya yang datang dan bercerita bahwa menjadi sopir bajaj memberikan hasil yang untung, bisa ditabung.

Baca juga: Jalan Raya Onggorawe Diperbaiki, Akses Vital Penghubung Demak dan Kota Semarang


Karena ucapan temannya, dia mulai mencoba. 


Meski awalnya sekadar iseng, tetapi pengalaman pertama mengaspal membuatnya bertahan. Hujan atau panas tak lagi jadi musuh. 


Penumpang tetap berdatangan, terutama dari kawasan wisata dan titik ramai seperti Kota Lama dan Simpang Lima.


Para pengguna, justru banyak yang penasaran dan antusias.


Di tengah interupsi aturan yang tengah dibahas Pemkot, Surakhman menyimpan harapan sederhana yakni agar masalah cepat selesai.


“Pemerintah cepat nyelesaiin polemik ini. Biar tenang cari rezeki. Kalau bisa dikasih izin.” harapnya.

Sopir lainnya yakni Nurwahid (48), merasakan hal serupa. Ia baru sebulan bergabung, setelah sebelumnya bekerja serabutan di proyek. 


“Sangat jauh bedanya. Bisa dua kali lipat. Hari biasa mengantongi sekitar Rp300 ribu, akhir pekan bisa empat ratus, lima ratus,” katanya.


Bajaj yang dibawanya bermesin 200 cc, empat percepatan ia sebut sebagai “teman baru” yang lebih stabil dibanding Tosa yang pernah ia miliki bertahun lalu.


Dimensi yang besar tak membuatnya kesulitan melintasi gang-gang permukiman. 


“Bisa masuk. Tinggal minggir dikit. Tanjakan juga kuat, contohnya di jalan Tembalang sampai Kembangsari, bahkan penjemputan sejauh Polder Tugurejo itu bisa,” ucapnya.


Yang paling ia syukuri adalah perlindungan dasar tak kehujanan, tak kepanasan. 


“Bedanya ya itu. Motor kalau hujan kan repot,” katanya.


Masalahnya justru muncul dari hal-hal kecil selayaknya transportasi daring, yakni akurasi peta atau titik jemput konsumen.


“Kadang map-nya enggak pas. Itu aja susahnya,” tuturnya.


Selain itu, tak ada konflik berarti. Rekan-rekan ojol lain, katanya, justru penasaran, bukan marah.


Di media sosial, ia membaca komentar-komentar miring soal bajaj. Di lapangan tak ada masalah, penumpang juga banyak yang senang saat dia antar.


“Selama ini malah pada senang, ada yang minta dianterin keliling dahulu nanti saya ditambahin uang tip,“ ujarnya. (Rad)

Sumber: Tribun Banyumas
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved