Sabtu, 30 Mei 2026

Berita Jateng

Prasasti Candi Angin Singkap Peradaban Jepara di Masa Silam

Prasasti Candi Angin diyakini berasal dari masa Jawa kuno, mungkin sezaman dengan munculnya kerajaan-kerajaan awal di Jawa Tengah

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: khoirul muzaki
Tito Isna
ILUSTRASI - Suasana para pengunjung wisatawan melihat peninggalan sejarah di Museum Kartini, Kabupaten Jepara. 

TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Di balik perbukitan sejuk di Keling, Kabupaten Jepara, tersimpan batu tua yang diam selama berabad-abad. 


Batu itu tak lagi hanya benda museum RA Kartini yang berada di Pusat Kota Kabupaten Jepara.


Kini menjadi pintu gerbang baru menuju pemahaman tentang peradaban Jawa kuno.


Batu yang dikenal sebagai Prasasti Candi Angin itu tengah bersiap berbicara kembali. 


Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng lembaga riset Prancis bergengsi, École Française d'Extrême Orient (EFEO), untuk menyingkap kembali pesan yang terkandung di dalamnya.


Kolaborasi dua institusi ini bukan sekadar penelitian arkeologi biasa. 


Ia menjadi bagian dari proyek besar bertajuk Institusi Keagamaan di Indonesia pada Periode Awal melalui Pendekatan Epigrafis dan Filologis sebuah upaya menelusuri bagaimana agama, lembaga, dan budaya tertulis berkembang di Nusantara jauh sebelum era kerajaan-kerajaan besar dikenal dalam buku sejarah.


Prasasti Candi Angin diyakini berasal dari masa Jawa kuno, mungkin sezaman dengan munculnya kerajaan-kerajaan awal di Jawa Tengah bagian utara.


Namun, hingga kini belum ada kepastian tentang usia, isi, dan konteks sosialnya. Di situlah penelitian ini menemukan relevansinya.


“Setiap prasasti bukan hanya catatan administratif. Ia adalah potret nilai, bahasa, dan cara masyarakat memahami dunia,” kata Peneliti senior BRIN Dr Titi Surti Nastiti kepada Tribunjateng, Minggu (5/10/2025).


Timnya akan bekerja di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mulai 9 hingga 18 Oktober 2025, dengan pendekatan multidisipliner: epigrafi, filologi, dan dokumentasi digital.


Salah satu metode kunci yang digunakan adalah fotogrametri - teknologi perekaman tiga dimensi yang mampu menangkap setiap guratan aksara dengan ketelitian luar biasa.


Melalui ribuan foto beresolusi tinggi, tim dapat merekonstruksi bentuk permukaan batu, membaca kembali aksara yang nyaris lenyap, bahkan mendeteksi pola pahatan yang tak terlihat oleh mata telanjang.


Menurut M Irfan Mahmud, Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, metode ini memberi kehidupan kedua bagi prasasti-prasasti tua.


“Selama ini, banyak prasasti hanya didokumentasikan lewat foto dua dimensi. Fotogrametri memungkinkan kami membaca dengan lebih dalam — bukan sekadar teks, tapi juga konteks," ujar Kepala Riset Arkeologi.


Candi Angin hanyalah satu dari ratusan prasasti yang tersebar di Jawa. 


Diperkirakan ada sekitar 600 prasasti di pulau ini, sementara di seluruh Nusantara jumlahnya mencapai ribuan.


Namun, belum ada inventaris tunggal yang mencatatnya secara lengkap.


Upaya paling sistematis dilakukan BRIN dan EFEO melalui proyek Inventaris Daring Epigrafi Nusantara Kuno (idenk.net) yang kini sudah memuat lebih dari 3.500 entri metadata.


Platform ini bukan sekadar basis data, melainkan fondasi bagi riset-riset lanjutan untuk memahami bagaimana agama, bahasa, dan kekuasaan berkelindan di masa lampau.


Kolaborasi lintas negara ini juga menegaskan bahwa riset tentang Indonesia tak lagi dipusatkan di luar negeri, melainkan tumbuh dari kerja sama sejajar antara peneliti lokal dan internasional.


Selain prasasti batu dan lempeng tembaga, penelitian ini juga menelusuri naskah lontar dari Jawa dan Bali.


Langkah ini penting karena Indonesia termasuk sedikit wilayah di Asia Tenggara yang memiliki dua tradisi tulis kuat — prasasti dan manuskrip.


“Lontar sering kali memuat deskripsi yang melengkapi catatan prasasti.Ketika keduanya dibaca bersamaan, kita mendapatkan gambaran utuh tentang praktik keagamaan, organisasi sosial, bahkan cara berpikir masyarakat kuno," ucapnya.


Dengan pendekatan ini, riset tidak hanya memulihkan teks, tapi juga menyusun ulang narasi peradaban - sesuatu yang selama ini terpecah antara arkeologi dan filologi.


Bagi Jepara, penelitian ini bukan sekadar kegiatan akademik.


Subkor Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbud Jepara, Lia Supardianik, melihatnya sebagai momentum penting.


“Kami berharap penelitian ini membuka tabir sejarah Candi Angin, tapi juga mengangkat nama Jepara sebagai daerah yang menyimpan warisan budaya kelas dunia,” ujarnya.


Jika hasil riset nanti dipublikasikan secara global, Jepara tak hanya dikenal sebagai tanah kelahiran RA Kartini, tetapi juga salah satu titik penting dalam sejarah awal peradaban Nusantara.


Di balik guratan aksara yang terukir di Candi Angin, tersembunyi ingatan kolektif yang panjang - tentang keyakinan, kekuasaan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.


Kini, berkat riset lintas negara dan teknologi modern, batu itu akan berbicara kembali.


Dan ketika suara masa lalu itu terdengar, mungkin akan menemukan bukan hanya sejarah Jepara, tapi juga bagian dari kisah sebagai bangsa. (Ito)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved